Yuk, Ketahui Mitos Dan Fakta Seputar Kulit Bayi

Merries Insight
20 April 2020
Umum
Share
Yuk, Ketahui Mitos Dan Fakta Seputar Kulit Bayi

Moms, mitos mengenai bayi di masyarakat banyak sekali, ya. Salah satunya adalah mengenai kulit bayi. Namun, jangan asal percaya sama mitos dan jangan sampai hal ini membuat Moms khawatir berlebihan. Yuk, cari tahu apa saja mitos dan fakta seputar kulit bayi berikut ini.  

  • Mitos #1 Minum Susu Kacang Kedelai Saat Hamil Membuat Kulit Bayi Putih

Moms mungkin pernah mendengar, kulit bayi nantinya berwarna putih jika Moms rajin minum susu kacang kedelai di masa kehamilan. Namun faktanya adalah warna kulit bayi sebenarnya dipengaruhi oleh faktor genetik dari orangtuanya. Jadi bukan dipengaruhi oleh konsumsi susu kedelai. 

Moms juga mesti memperhatikan bila kulit Si Kecil tampak ada bercak-bercak putih dan terasa gatal. Boleh jadi Ia mengalami masalah kulit. Penyebabnya bisa karena alergi, kurang terjaganya kebersihan. Atau, bahkan bisa juga karena faktor genetik yang diturunkan secara langsung dari orang tua atau kakek/neneknya.

  • Mitos #2 Memakan Stroberi Saat Hamil Memicu Bercak Merah di Kulit Bayi

Moms mungkin juga pernah mendengar mitos untuk menghindari makan buah stroberi saat hamil, karena akan menyebabkan kulit bayi tampak bercak-bercak merah seperti warna stroberi. Faktanya, mirip dengan mitos meminum susu kacang kedelai, sebenarnya tidak ada kaitan antara mengkonsumsi stroberi dengan munculnya bercak pada kulit bayi. Memang seringkali ditemui bercak berwarna merah terang yang dikenal dengan nama Strawberry Hemangioma. Akan tetapi, hal ini merupakan tumor jinak yang disebabkan pertumbuhan pembuluh darah yang tidak normal. Kondisi ini juga dapat terjadi di setiap jaringan pembuluh darah.

Baca Juga : Masalah Kulit pada Bayi dan Cara Perawatannya

  • Mitos #3 Menghindari Kerak Kulit Kepala Bayi dengan Meminum Air Kelapa Saat Hamil

“Katanya” juga, Ibu hamil harus sering minum air kelapa agar kulit bayi bersih dan tidak ada kerak pada kulit kepalanya. Tapi, sebenarnya tidak ada kaitannya antara minum air kelapa dengan kulit bayi menjadi bersih. Selain itu, kulit kepala berkerak bisa muncul saat bulan pertama atau kedua kelahirannya. Biasanya kondisi ini tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Kulit kepala berkerak dalam bahasa medis disebut dengan dermatitis seboroik, ini disebabkan karena terlalu banyak produksi minyak. Kondisi ini umumnya muncul diikuti dengan ruam merah dan kulit bersisik berwarna kekuningan, tebal, dan disertai minyak di area kepala, alis, kelopak mata, sisi hidung, atau belakang telinga. 

  • Mitos #4 Bayi yang Lahir dengan Kulit Gelap akan Putih Saat Besar

Mitos yang cukup terkenal adalah, bayi yang lahir warna kulitnya gelap, nanti ketika ia besar kulit putih kulitnya. Namun, saat bayi baru lahir, kulitnya masih tipis. Kulit yang tipis ini membuat pembuluh darah di bawah kulit dapat terlihat lebih jelas dan warna kulitnya bersemu merah jambu. Selain itu, kandungan pigmen di dalam kulit bayi yang baru lahir pun masih sedikit. Perlahan-lahan, sejak lahir hingga memasuki usia 2 bulan, kulit bayi akan menebal, bertambah jumlah pigmennya dan karena hal ini yang dapat menyebabkan berubah menjadi lebih gelap.

Fase perubahan warna kulit ini umumnya berlangsung selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. Setelah 6 bulan, warna kulit bayi biasanya adalah warna kulitnya yang tetap atau permanen. Nah, warna kulit ini diwarisi bayi dari kedua orangtuanya. Namun bisa juga perubahan warna kulit dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kondisi kesehatan.

Penting juga bagi orang tua untuk selalu memperhatikan kondisi kulit bayi, misalnya jika perubahan warna kulit bayi tampak sangat kontras atau terjadi dengan cepat. Perubahan warna kulit bayi ini dapat juga dipengaruhi karena ketidakcocokan bayi pada produk perawatan kulit yang dipakainya.

Baca Juga : 7 Cara Mengatasi Ruam Popok yang Perlu Moms Tahu

  • Mitos #5 Cipratan ASI di Wajah Bayi Menyebabkan Bercak di Kulit Bayi

Moms mungkin juga pernah mendengar mitos untuk menghindari  ASI mengenai wajah bayi karena bisa menyebabkan daerah pipinya berwarna kemerahan atau muncul bercak karena cairan ASI. Ketika daerah pipi bayi berwarna kemerahan, gatal dan timbul gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih hal itu terjadi karena bayi terkena Dermatitis Atopik atau eksim susu. Penyebabnya bisa karena berbagai faktor, misalnya makanan, faktor keturunan, keringat, dan debu. Jadi bercak di pipi bayi ini bukan karena terkena cipratan ASI. Jadi Moms jangan hentikan pemberian ASI pada bayi karena ASI satu-satunya makanan terbaik yang wajib diberikan hingga usia 6 bulan. Setelah itu baru boleh diberikan makanan pendamping ASI. Perlu kita tahu juga, ASI tidak menyebabkan alergi pada bayi, namun justru dapat mencegah alergi karena mengandung zat antibodi.

  • Mitos #6 Minyak Zaitun adalah Minyak Pijat Paling Aman untuk Bayi

Pernahkah Moms diberikan tips kalau Minyak zaitun sebagai minyak pijat paling aman untuk bayi? Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh University of Manchester, memijat bayi sebaiknya tidak menggunakan minyak zaitun atau bunga matahari. Penelitian tersebut menemukan, produk yang selama ini aman dan menyehatkan bagi orang dewasa, ternyata bisa meningkatkan risiko kerusakan kulit pada bayi.

Hasil penelitian menunjukkan, minyak zaitun terlalu keras untuk kulit bayi. Minyak bisa terurai menjadi asam lemak yang merusak struktur kulit bayi. Minyak tersebut bisa merusak pelindung kulit bayi yang masih sangat sensitif. Hal ini memungkinkan terjadinya iritasi, kekeringan kulit, kulit pecah-pecah, berisiko eksim atau peradangan pada kulit bayi. Penelitian ini mengingatkan, membran sel kulit bayi sangat sensitif sehingga butuh waktu sekitar dua tahun untuk berkembang secara utuh. 

  • Mitos #7 Popok Sekali Pakai Menyebabkan Ruam pada Bayi

Moms mungkin juga pernah mendengar kalau popok sekali pakai akan menyebabkan bayi mengalami ruam popok. Faktanya, kemungkinan ruam popok atau dermatitis/eksim bisa muncul pada bayi jika bayi terinfeksi jamur Candida albicans. Gejalanya adalah kulit area yang tertutup popok berwarna merah dan muncul bintik-bintik. 

Banyak orang tua baru yang keliru menganggap semua bayi pasti kena ruam popok karena menggunakan popok sekali pakai. Padahal, meskipun kondisi ini cukup umum, ruam popok sangat bisa dicegah. Moms bisa menghindari ruam popok dengan beberapa cara, seperti:

Baca Juga : Yuk, Kenali Tahapan Tumbuh Kembang Bayi Usia 0-12 bulan

  • Segera mengganti popok yang kotor atau basah dan lakukan hal tersebut sesering mungkin, membersihkan seluruh bagian kulit yang sering tertutup popok sampai tuntas, terutama pada setiap lipatan kulit.
  • Moms dan Dads juga harus mencuci segera selangkangan dan kemaluan bayi setiap mengganti popok sekali pakai atau segera ganti popok sekali pakai setelah bayi buang air besar atau kecil. Selain itu, jangan terlalu lama juga memakaikan popok yang sama, Moms bisa mengganti popok sekali pakai setiap 3-4 jam sekali.
  • Kulit bayi membutuhkan sirkulasi udara yang baik agar bisa bernapas. Jadi Moms bisa memberi jeda waktu tanpa menggunakan popok selama beberapa menit. Atau, solusi lebih praktisnya adalah memilih popok bayi yang memiliki fitur ‘sirkulasi udara baik’ seperti popok Merries, sehingga udara dapat keluar masuk popok dengan baik. 

                                                         popok merries NB

  • Mitos #8 Kulit pada Bayi Laki-laki dan Perempuan Berbeda

Mitos terakhir adalah kulit bayi laki-laki dan perempuan berbeda. Faktanya, tidak ada perbedaan kulit bayi berdasarkan jenis kelaminnya. Namun, yang perlu untuk diketahui oleh para orang tua bahwa meskipun struktur kulit pada bayi sama dengan kulit orang dewasa, tingkat maturitas fungsinya tidak sama. Kulit bayi, terutama yang baru lahir, sangat halus, lembut dan belum diproteksi secara maksimal oleh sistem imunitas tubuh. Bayi terlahir dengan kulit yang jauh lebih sensitif dibanding orang dewasa. Lapisan kulit bayi masih tipis dan ikatan antara selnya masih lemah, sehingga secara struktural lapisan kulit bayi belum berkembang secara optimal. Karena itu, tidak heran jika kulit bayi lebih rentan terhadap masalah kulit, alergi, dan infeksi. 

Merawat kulit bayi memang bisa dibilang sedikit rumit dan butuh ketelatenan yang tinggi. Moms harus berhati-hati dalam merawatnya. Itu sebabnya, memahami segala hal tentang kulit bayi bisa jadi salah satu cara untuk menentukan perawatan yang terbaik untuknya. Tidak kalah penting, Moms harus waspada juga terhadap mitos-mitos seputar kulit bayi. Rawat dan lindungi kulit bayi dengan cara yang tepat dan benar sehingga kulitnya selalu bersih dan sehat.