Over Stimulasi pada Si Kecil, Bagaimana Cirinya dan Apa Dampaknya?

Merries Insight
19 Agustus 2019
Kesehatan
Share
Over Stimulasi pada Si Kecil, Bagaimana Cirinya dan Apa Dampaknya?

Artikel ini berisi tentang :

  1. Memberikan Stimulai Jangan Berlebihan!
  2. Ciri Si Kecil Mendapat Over Stimulasi
  3. Dampak Buruk Over Stimulasi
  4. Cara Mengatasi Over Stimulasi

Banyak cara yang bisa Moms lakukan untuk memberikan stimulasi sebagai pendukung tumbuh kembangnya, dari mulai membiarkan Si Kecil bermain di luar rumah, memberikan mainan edukatif, dan lainnya. Tapi hati-hati Moms, berikan stimulasi sesuai dengan kebutuhannya Si Kecil.

Memberikan Stimulasi Jangan Berlebihan!

Stimulasi merupakan salah cara untuk memaksimalkan tumbuh kembang Si Kecil. Tempat terbaik untuk melakukannya adalah, rumah dan lingkungan sekitar, seperti taman bermain, pekarangan rumah dan lainnya. (oleh Ellen Susila M.Psi., psikolog Anak dari RSIA Grand Family, Jakarta)

Meskipun begitu, Ellen mengingatkan bukan berarti Si Kecil harus menghabiskan waktu sepanjang hari dengan cara bermain dan belajar. Mereka tetap butuh waktu untuk menenangkan diri, mengenal apa yang diinginkannya, atau sekedar melakukan apa yang diinginkannya.

Misalnya, bermain lego atau brick toys banyak memberi manfaat untuk pertumbuhan otak Si Kecil, menumbuhkan kreativitas dan lainnya. Tapi pertimbangkan juga mainan favorit Si Kecil, seperti mobil-mobilan, bermain boneka, bermain di luar ruangan, atau sekedar menonton televisi.

Menurut Ellen, selain sebagai selingan untuk mencegah rasa jenuh, memberikan variasi stimulasi justru malah mendorong Si Kecil untuk menguasai lebih banyak kemampuan baru.

Ciri Si Kecil Mendapat Over Stimulasi

Keterbatasan dalam berkomunikasi membuat Si Kecil kesulitan untuk menyatakan jika dia sudah mendapat stimulasi secara berlebihan. Meskipun begitu, Moms bisa memprediksi Si Kecil sudah mendapat over stimulasi dengan melihat ekspresi yang mereka tunjukkan.

Berikut merupakan beberapa tanda jika Si Kecil sudah mengalami over stimulasi, seperti dilansir dalam parents.com,

  1. Si Kecil terlihat menghindari kontak mata dengan Moms. Terkadang Si Kecil pun memperlihatkan ekspresi kesal dan lelah.
  2. Si Kecil menjadi sangat rewel, dan mudah marah. Emosinya pun menjadi buruk dengan tanda mudah menyerah, dan terlihat bermalas-malasan.
  3. Si Kecil tiba-tiba berperilaku agresif, dia menjadi sering memukul, menendang, melemparkan mainannya karena kesal, berteriak dan perilaku buruk lainnya.
  4. Si Kecil menjadi sosok pembangkang dan sering memberontak instruksi Moms. Dia terlihat ingin menunjukkan kalau dirinya punya keinginan sendiri.

Secara keseluruhan, gelaja over stimulasi terlihat seperti gejala kelelahan biasa. Yang membedakan adalah, gejala over stimulasi muncul setelah Si Kecil menjalankan aktivitas yang sama dalam waktu yang lama. (oleh Lisa M. Asta, MD, pakar anak di University of California at San Francisco)

Dampak Buruk Over Stimulasi

Menurut Ellen, di usia Balita Si Kecil cenderung menginginkan kebebasan. Rasa ingin tahu mereka yang sangat tinggi, secara naluriah akan menuntun Si Kecil untuk mengenal berbagai hal baru, baik itu lewat pengamatan sendiri, atau lewat informasi yang Moms berikan.

Misalnya, saat bermain di atas rumput, Si Kecil bisa merasakan bagaimana tekstur rumput, dan bisa membedakannya dengan lantai atau tanah. Atau ketika dia memanjat, Si Kecil akan tahu bagaimana melihat lingkungan sekitar dari ketinggian, dan memandang orang lain lewat sudut pandang yang lebih tinggi.

Hanya memberi satu jenis stimulai, sama saja Moms sudah mengisolir Si Kecil dari kemampuan baru, yang mungkin saja jauh lebih dibutuhkan untuk menunjang tumbuh kembang Si Kecil.

Misalnya, dengan memberikan mainan Lego, kemampuan otak Si Kecil dan kreativitasnya mungkin akan meningkat tajam. Tapi karena Si Kecil jarang bergerak, bisa jadi kemampuan fisik dan daya tahan tubuhnya justru melemah, sehingga dia pun rentan terserang penyakit.

Cara Mengatasi Over Stimulasi

Menurut American Academy of Pediatrics, dampak over stimulasi sebenarnya jauh lebih luas. Selain membuat kemampuannya tidak seimbang, dalam jangka pendek, over stimulasi bisa menyebabkan Si Kecil jadi mudah bosan, meningkatkan risiko tantrum dan membuat Si Kecil jadi mudah frustasi.

Untuk mengatasi hal ini, ada banyak cara yang bisa Moms lakukan, diantaranya adalah :

  1. Biarkan Si Kecil tenang dan melakukan yang dia inginkan (selama keinginan tersebut tidak membahayakan). Misal, mengganti mainan atau berjalan ke tempat lain untuk mengatasi bosan.
  2. Jauhkan Si Kecil dari kebisingan, dan minta dia untuk tidur sebentar. Moms bisa ngelonin Si Kecil dengan bernyanyi untuknya, atau membacakan dongeng.
  3. Duduk di di samping Si Kecil dan berikan pelukan. Tanya bagaimana perasaannya, apakah dia bosan atau capek. Setelah itu, biarkan dia istirahat, atau tawarkan mainan baru!

Agar tidak mengalami over stimulasi, Moms sebaiknya memberikan stimulasi yang beragam setiap harinya, dari mulai stimulasi untuk otak, stimulasi untuk fisik, dan lainnya. Lakukan semua kegiatan tersebut dalam pola permainan yang menarik. Selamat mencoba!