Kenali Sakit Kuning pada Bayi, dan Cara Mengatasinya!

Merries Insight
23 Oktober 2019
Kesehatan
Share
Kenali Sakit Kuning pada Bayi, dan Cara Mengatasinya!

Artikel ini berisi tentang :

  1. Sakit Kuning pada Bayi
  2. Sakit Kuning Yang Tidak Berbahaya
  3. Sakit Kuning Yang Berbahaya
  4. Cara Mengatasi Bayi Kuning

Sesaat setelah dilahirkan, di beberapa bagian tubuh Si Kecil terdapat bercak kuning, terutama di bagian mata, ujung kuku, dan bagian tubuh lainnya. Kondisi ini cukup umum terjadi, dan banyak orang tua yang khawatir kondisi ini bisa membahayakan kesehatan Si Kecil.

Sakit Kuning pada Bayi

Penyakit kuning atau jaundice merupakan kondisi yang terjadi akibat darah Si Kecil mengalami kelebihan bilirubin, yakni pigmen warna kuning yang terdapat pada sel darah merah. Bilirubin sendiri merupakan produk sampingan yang diproduksi ketika memecah sel darah merah yang sudah tua.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika, sekitar 60% bayi dari seluruh dunia, lahir dengan kondisi kuning. Bahkan khusus untuk bayi prematur, 8 dari 10 bayi yang lahir sebelum usia 37 minggu, akan mengalami penyakit kuning.

Sementara menurut penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Obstetrics, ada beberapa kategori bayi yang berisiko mengalami penyakit kuning, yakni :

  1. Si Kecil lahir prematur, dan fungsi hatinya masih belum sempurna. Normalnya, kondisi kuning ini akan berlangsung selama lebih dari 2 minggu.
  2. Si Kecil yang mengalami penurunan berat badan secara drastis setelah kelahiran. Kondisi ini umumnya terjadi akibat kurangnya asupan ASI.
  3. Si Kecil lahir lewat metode induksi. Hal ini disebabkan karena adanya tambahan oksitosin berlebih, dan memicu penyakit kuning.

Selain itu, Si Kecil yang dilahirkan dari ibu yang memiliki diabetes, memiliki riwayat keluarga terkait penyakit kuning dan berat badan Moms berlebih selama masa kehamilan dan melahirkan, rentan mengalami sakit kuning.

Sakit Kuning Yang Tidak Berbahaya

Jaundice atau sakit kuning yang masuk dalam kategori normal adalah jaundice fisiologis. Kondisi ini disebabkan karena fungsi hati Si Kecil yang memang belum maksimal, sehingga tidak mampu memecah metabolisme bilirubin dengan sempurna.

Biasanya, jaundice fisiologis akan muncul ketika Si Kecil masih berusia 24-72 jam. Karena memang tidak terlalu berbahaya, Moms tidak perlu khawatir. Biasanya, kulit Si Kecil akan berangsur pulih dalam waktu kurang dari 7 hari

Untuk mengatasi masalah ini, Moms bisa menjemur Si Kecil setiap pagi . Tapi ingat, pastikan untuk selalu menggunakan penutup mata. (oleh dr. Rouli Nababan, Sp.A., dokter spesialis anak dari Kiddie Care Centre Sunter, dan Omni Hospital Pulomas, Jakarta)

Berikut adalah cara menjemur Si Kecil yang benar dilansir dari laman situs alodokter.com yang telah ditinjau oleh  dr. Allert Benedicto Ieuan Noya.

  • Jemur bayi dengan mengenakan pakaian

Saat hendak berjemur, sebaiknya bayi tetap mengenakan pakaian, agar kulitnya yang masih sangat tipis tidak terbakar. Hal ini berlaku bagi semua bayi, terutama yang usianya masih di bawah 6 bulan. Selain itu, jangan biarkan Si Kecil menatap langsung sinar matahari.

  • Jangan terlalu lama menjemur bayi

Pastikan Moms tidak menjemur Si Kecil terlalu lama di bawah sinar matahari. Cukup jemur bayi selama 10-15 menit sehari. Kapan waktu yang tepat? Selama ini, mungkin banyak Moms yang menjemur bayi sebelum jam 10 pagi, karena ada anggapan yang mengatakan bahwa di atas jam 10 pagi, efeknya tidak baik untuk kulit bayi. Anggapan ini dipatahkan oleh penelitian terbaru yang dijelaskan dalam buku SEHAT SEJATI YANG KODRATI yang ditulis oleh Dr. Tan Shot Yen, M.Hum.

Dilansir oleh laman situs kompasiana, dalam buku tersebut Dr. William Grant sebagai pakar vitamin D menjelaskan bahwa dari kajian di Inggris, Norwegia, dan Amerika Serikat, waktu optimal untuk mendapatkan produksi vitamin D justru sedekat mungkin dengan tengah hari (antara jam 10 pagi hingga 2 siang).

Kenapa? Karena saat matahari berada di bawah horizon atau langit bagian bawah, berbatasan dengan permukaan bumi dan laut, yakni di bawah jam 10, maka sinar matahari lebih banyak memancarkan sinar UV (Ultraviolet) A.

Kita tidak membutuhkan sinar UVA, karena sinar UVA memiliki peran lebih penting dalam meningkatkan risiko melanoma dan keriput. Yang kita butuhkan Ultraviolet B, yang gelombangnya itu sedikit pendek. Kabar baiknya kita tinggal di khatulistiwa, dimana UVB sudah ada pada jam 10 pagi. (Oleh DR. dr. Tan Shot Yen, M. Hum, Ahli Nutrisi dalam acara Dunia Sehat)

  • Pakaikan topi atau pelindung kepala pada bayi

Saat Moms ingin menjemur Si Kecil, sebaiknya kenakan pelindung kepala Si Kecil terlebih dahulu, seperti topi dan kacamata. Tujuannya agar sinar matahari tidak langsung mengenai kepala, wajah, serta mata Si Kecil. Paparan sinar matahari langsung ke mata bayi dapat mengganggu retinanya yang masih sangat sensitif.

  • Gunakan tabir surya pada bayi usia di atas 6 bulan

Bila Si Kecil telah berusia lebih dari 6 bulan, Moms bisa memakaikan tabir surya dengan SPF 15, untuk menghalau dampak buruk sinar ultraviolet pada kulitnya. Gunakan tabir surya khusus untuk anak.

Selain menjemur Si Kecil setiap pagi, pastikan Si Kecil mendapatkan asupan ASI yang cukup. Jika dibutuhkan, Moms bisa mengecek kadar bilirubinnya lewat pemeriksaan dokter. Pemeriksaan ini sangat disarankan dilakukan jika setelah 3 hari kondisi kuning Si Kecil tidak membaik, bahkan cenderung semakin parah.

Sakit Kuning Yang Berbahaya

Jaundice yang tidak normal atau jaundice patologis, merupakan kondisi sakit kuning yang sangat berbahaya. Kondisi ini umumnya disebabkan karena penyakit tertentu yang menyebabkan pemecahan hemoglobin terjadi secara berlebihan.

Ada beberapa penyakit yang bisa menyebabkan masalah ini, diantaranya anemia hemolitik, kurangnya enzim (G6PD), dan perbedaan golongan darah yang menyebabkan ketidakcocokan ABO atau rhesus.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kondisi ini umumnya terjadi pada bayi yang lahir prematur. Selain itu, Moms pun perlu hati-hati jika Si Kecil mengalami penyakit kuning lebih dari 1 minggu, meskipun pada awalnya Si Kecil dilahirkan normal.

Untuk mengetahui kondisi kesehatan Si Kecil secara menyeluruh, dokter biasanya akan melakukan pengecekan kadar bilirubin setelah usia 3 hari. Jika kadar bilirubin tinggi, tindakan pengobatan akan dilakukan agar masalah ini bisa segera diatasi.

Cara Mengatasi Bayi Kuning

Menurut dr. Rouli, ada beberapa tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah bayi kuning. Untuk gejala penyakit kuning ringan, penanganannya hanya memberikan ASI eksklusif dan terapi sinar matahari ( pagi sebelum jam 9, dan sore setelah jam 4 sore).

Untuk mengatasi bayi kuning yang tidak normal, dokter akan melakukan pengobatan sesuai dengan penyebab utamanya. Terkadang, masalah ini bisa diatasi dengan fototerapi atau filtered sunlight, yakni Si Kecil akan ditempatkan dalam box khusus sambil diberi sinar ultraviolet.

Untuk kasus yang lebih parah, terkadang Si Kecil harus melakukan transfusi darah untuk menggantikan darah yang mengandung kadar bilirubin tinggi. Untuk prosedur ini mungkin butuh waktu yang cukup lama dan biaya yang dikeluarkan pun sedikit lebih mahal.

Tapi ingat, penyakit kuning tidak bisa dibiarkan karena dampaknya bisa sangat berbahaya, termasuk meningkatkan kerusakan otak, dan kondisi kesehatan jangka panjang lainnya.