Bibir Bayi Baru Lahir Terlihat Kering dan Pecah-pecah. Normalkah?

Merries Insight
16 Oktober 2019
Kesehatan
Share
Bibir Bayi Baru Lahir Terlihat Kering dan Pecah-pecah. Normalkah?

Artikel ini berisi tentang :

  1. Bibir Kering dan Pecah-pecah Bukan Masalah Besar
  2. Bibir Kering Yang Tidak Normal
  3. Cara Mengatasi Bibir Kering Pada Si Kecil
  4. Sebaiknya Jangan Diolesi Madu

Baru beberapa jam setelah dilahirkan, Moms akan melihat cukup banyak kejanggalan yang terjadi pada Si Kecil. Salah satunya kondisi bibirnya yang terlihat kering dan pecah-pecah. Apakah kondisi ini wajar dan terjadi pada semua bayi yang baru lahir?

Bibir Kering dan Pecah-pecah Bukan Masalah Besar

Bibir kering dan pecah-pecah yang dialami Si Kecil sebenarnya bukan hal yang mengkhawatirkan. Ini merupakan kondisi wajar dan banyak dialami bayi baru lahir. (oleh dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M.Sc, Dokter Spesialis Anak RS Pondok Indah, Jakarta)

Dalam kebanyakan kasus, bibir kering dan pecah-pecah yang dialami Si Kecil disebabkan karena kebiasaannya yang senang menjilat atau mengisap bibir. Ini terjadi secara alami Moms, karena Si Kecil mungkin masing ingin menikmati sensasi menyusu pertamanya.

Selain karena kebiasaan menghisap dan menjilat bibir, bibir kering dan pecah-pecah bisa terjadi akibat temperatur udara yang tinggi, dengan tingkat kelembaban yang rendah. Selain itu, paparan angin yang berlebihan pun bisa menyebabkan bibir Si Kecil kering.

Meskipun normal dan tidak berbahaya, bibir kering bisa menyebabkan rasa tidak nyaman, yang berdampak pada pola tidur dan menyusu Si Kecil yang buruk, serta beresiko menyebabkan infeksi.

Bibir Kering Yang Tidak Normal

Meskipun sebagian besar kasus bibir kering tidak berbahaya, dr. Caessar menjelaskan jika bibir kering sangat berbahaya jika ternyata menjadi tanda datangnya dehidrasi. Biasanya, bibir kering tanda dehidrasi, ditandai dengan gejala tambahan berikut ini:

  1. Mata dan ubun-ubun Si Kecil terlihat cekung
  2. Si Kecil menangis tanpa air mata
  3. Frekuensi buang air kecil yang menurun. Idealnya, Si Kecil buang air kecil 6 kali sehari.

Untuk memastikan apakah Si Kecil mengalami dehidrasi atau tidak, Moms bisa mencubit lembut kulit tangan atau kakinya dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk. Kalau kulit Si Kecil lambat kembali ke posisi semula, kemungkinan besar dia mengalami dehidrasi.

Menurut NYU Langone Medical Center, dehidrasi yang terjadi pada Si Kecil tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pasalnya, dehidrasi bisa menyebabkan kerusakan organ yang cukup fatal, hingga berisiko menyebabkan kematian.

Cara Mengatasi Bibir Kering Pada Si Kecil

Untuk mencegah dehidrasi, pastikan Moms memberikan ASI sesuai dengan kebutuhan Si Kecil. Idealnya, Si Kecil harus menyusu 2 jam sekali, dengan lama menyusu sekitar 10-15 menit dalam sekali menyusu.

Sedangkan untuk mengatasi bibir kering, Moms bisa melakukan langkah berikut ini.

  1. Ambil sedikit ASI dan simpan pada jari tangan. Kemudian oleskan pada bibir Si Kecil secara perlahan. Cara ini bisa dilakukan sebelum dan setelah Si Kecil menyusu. Jangan lupa untuk terlebih dahulu memastikan tangan bersih sebelum mengoleskan ASI kepada bibir Si Kecil ya Moms!
  2. Sebagai alternatif, Moms bisa mengoleskan minyak kelapa pada bibir Si Kecil. Ingat, pastikan menggunakan minyak kelapa murni. Minyak mengandung asam laurat, yang dapat melembabkan kulit. Asam laurat terdapat juga dalam ASI.
  3. Gunakan humidifier atau pelembab udara dalam ruangan. Hal ini dilakukan untuk memastikan kondisi ruangan yang ditempati Si Kecil tetap lembab, sehingga mampu menangkal terjadinya kulit kering dan mencegah dehidrasi.

Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, Moms bisa segera membawa Si Kecil ke dokter, terlebih jika Si Kecil terlihat gelisah, rewel dan susah menyusu.

Sebaiknya Jangan Diolesi Madu

Beberapa orang tua kadang mengoleskan madu untuk mengatasi masalah bibir kering dan pecah-pecah pada Si Kecil. Meskipun madu memiliki banyak manfaat, tapi faktanya kandungan parasit dan bakteri dalam madu bisa sangat membahayakan Si Kecil jika madu tersebut tertelan.

Dalam madu alami mengandung bakteri Clostridium botulinum, yang bisa menyebabkan keracunan madu, atau yang dikenal dengan gejala botulisme. (oleh dr Rini Sekartini, SpA(K), dokter spesialis anak, sekaligus konsultan tumbuh kembang dari RSCM, Jakarta).

Menurut UCSB Science Line, Clostridium Botulinum merupakan jenis bakteri yang sangat kuat. Dia tidak mudah dimatikan dengan proses pemanasan biasa, bahkan pemanasan dengan suhu 100o, dan dilakukan 10 menit, tidak akan mampu membunuh bakteri ini secara penuh.

Sebagai info tambahan, madu yang disebut di sini merupakan madu alami atau madu hutan alami. Madu jenis ini hanya boleh diberikan pada anak di atas 1 tahun, di bawah itu sangat dilarang. Sedangkan untuk madu olahan khusus untuk bayi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter.