6 Penyebab Bayi Bisa Kehilangan Pendengaran

Merries Insight
14 Desember 2014
Kesehatan
Share
6 Penyebab Bayi Bisa Kehilangan Pendengaran

Penelitian telah menunjukkan bahwa pendengaran anak yang terganggu sejak bayi akan mempengaruhi kemampuan dan perkembangannya. Bayi yang memiliki gangguan pendengaran mempunyai kemampuan belajar dan bicara yang lebih rendah. Pasalnya, tumbuh kembang anak yang paling pesat adalah saat usia di bawah 3 tahun. Berikut ini adalah beberapa penyebab bayi bisa kehilangan pendengaran.

  1. Kotoran Menyumbat Liang Telinga

Faktor dari luar yang dianggap sepele tetapi dapat menyebabkan pendengaran bayi terganggu adalah adanya kotoran yang menyumbat bagian liang telinganya. Gangguan tersebut dikenal dengan tuli hantaran atau tuli konduksi. Selain disebabkan karena kotoran, tuli konduktif juga dapat disebabkan oleh radang telinga tengah yang kadang disertai dengan pengumpulan cairan di telinga tengah, lebih tepatnya di bagian belakang gendang telinga.

  1. Kerusakan Bagian Telinga

Masalah pendengaran yang disebabkan oleh kerusakan pada bagian telinga dalam dikenal dengan tuli saraf atau tuli sensorineural.

  1. Infeksi Saluran Pernapasan

Masalah pada saluran pernapasan juga dapat menjadi salah satu faktor bayi kehilanga pendengaran. Infeksi dan alergi dapat menghasilkan cairan di telinga tengah.

  1. Ototitis Media

Ini adalah radang telinga tengah. Udara tidak dapat keluar dari telinga tengah sehingga telinga terasa nyeri dan penuh.

  1. Infeksi TORCHS

Gangguan pendengaran pada bayi juga dapat disebabkan oleh kehamilan yang tidak sehat di mana pada saat kehamilan timester pertama janin terkena infeksi virus atau bakteri. Infeksi yang berpengaruh terhadap pendengaran adalah TORCHS yaitu toksoplasmosis, herpes, cytomegalovirus, dan sifilis.

  1. Gangguan Struktur Anatomi Telinga

Gangguan pada struktur anatomi telinga juga bisa menyebabkan kehilangan pendengaran seperti rumah siput yang tidak terbentuk (aplasia koklea) dan atresia liang telinga.

Selain beberapa penyebab di atas, bayi yang juga beresiko tinggi kehilangan pendengarannya adalah bayi lahir prematur, lahir tidak langsung menangis (asfiksia), berat badan lahir rendah, bayi kuning, meningitis bacterial, diberi obat ototoksik, menggunakan alat bantupernapasan lebih dari 5 hari dan hipoksia otak. Untuk itu, orangtua wajib melakukan pemeriksaan sejak dini. Biasanya bayi yang kehilangan pendengaran tidak bereaksi saat mendengar suara keras dan tidak merespon pembicaraan Moms.