Artikel Parenting

Menyikapi Balita yang Rebutan Mainan dengan Teman Sebayanya

0
Menyikapi Balita yang Rebutan Mainan dengan Teman Sebayanya

Artikel ini berisi tentang:

  1. Berebut Mainan Merupakan Hal Yang Wajar
  2. Kapan Si Kecil mulai bisa diajarkan konsep berbagi?
  3. Trik Menyikapi Tingkah Si Kecil yang Berebut Mainan
  4. Ajarkan Konsep Main Bergiliran

Meskipun sudah disediakan banyak mainan, terkadang Si Kecil masih suka berebut mainan dengan teman sebayanya. Dalam kondisi seperti ini, Moms pasti merasa dilema. Memutuskan membela Si Kecil, takut menyakiti hati orangtua anak tersebut. Kalau meminta Si Kecil mengalah, berisiko menyebabkan tantrum.

Berebut Mainan Merupakan Hal Yang Wajar

Kondisi ini biasanya disebabkan karena Si Kecil merasa mainan yang dimainkan temannya merupakan miliknya. Di sisi lainnya, anak tersebut masih menerapkan pola pikir “apa yang dia pegang, itu miliknya”. Dengan kata lain, keduanya masih belum masuk ke dalam tahap mau berbagi.

Jangan khawatir Moms, enggan berbagi merupakan sikap yang normal. Hal ini disebabkan karena fase tumbuh kembangnya belum sampai pada tahap berbagi. (oleh Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., psikolog anak dan keluarga dari Medicare Clinic).

Menciptakan momen bermain bersama dengan teman sebayanya merupakan salah satu tindakan positif, terutama untuk mengajarkan Si Kecil terkait konsep kepemilikan. Untuk selanjutnya, Moms bisa mulai mengajarkan konsep berbagi secara bertahap, sesuai dengan perkembangan usianya.

Kapan Si Kecil mulai bisa diajarkan konsep berbagi?

Menurut Anna, di usia 2 tahun biasanya Si Kecil sudah mulai mengenali konsep kepemilikan. Si Kecil bisa diberi tahu mana barang yang merupakan miliknya, dan mana barang yang bukan miliknya. Di usia ini, Si Kecil pun sebenarnya sudah mulai bisa dikenalkan dengan konsep berbagi.

Tapi jangan kaget kalau Si Kecil menolak. Di usia ini, tidak mau berbagi merupakan hal yang wajar, mengingat Si Kecil masih berada di fase akhir konsep ke-aku-an, yakni saat Si Kecil menganggap apa yang dipegangnya merupakan miliknya.

Mungkin, Si Kecil takut jika dia meminjamkan mainan ke temannya, mainan tersebut tidak akan kembali karena diambil oleh temannya. Si Kecil pun mungkin belum bisa membedakan arti dari meminjamkan, dan memberikan, sebab bagi mereka semuanya masih terlihat sama.

Makanya, disinilah peran Moms untuk menjelaskan makna tentang berbagi, baik itu konsep dasar meminjam dan memberikan. Dengan demikian, Si Kecil tidak akan merasa khawatir lagi saat ada temannya bermain dan meminjam mainannya di rumah.

Trik Menyikapi Tingkah Si Kecil yang Berebut Mainan

Seperti disebutkan di atas, Moms wajib mengajarkan dulu konsep berbagi kepada Si Kecil. Saat Si Kecil sudah mengerti konsep berbagi, tapi dia masih saja berebut mainan dengan temannya, Moms bisa menyikapi kondisi ini dengan cara :

  1. Jangan menghakimi, apalagi meminta salah satu pihak untuk mengalah. Tindakan ini justru akan membuat salah satu pihak merasa terpinggirkan. Bahkan bukan tidak mungkin salah satu dari mereka akan menangis, dan membuat suasana semakin kacau.
  2. Ajak Si Kecil dan temannya untuk melakukan permainan lain yang lebih menyenangkan, dan minta mereka untuk meninggalkan mainan yang diperebutkan tersebut. Pilih permainan yang harus dimainkan secara kelompok, misalnya petak umpet, lempar bola dan lainnya.
  3. Dalam fase damai ini, Moms sebaiknya tidak meninggalkan mereka. Sebaiknya ikut terlibat dalam permainan yang tadi Moms usulkan. Usahakan posisi Si Kecil dan temannya sama. Misal, dalam petak umpet Moms bisa berperan sebagai pencari, dan mereka yang bersembunyi.

Dengan cara ini, mereka akan kembali rukun dan bermain bersama, tanpa membuat salah satu pihak merasa dibenarkan, dan pihak lainnya disalahkan.

Ajarkan Konsep Main Bergiliran

Bermain secara bergiliran sebenarnya masih bagian dalam konsep berbagi. Di sini, Si Kecil boleh memainkan permainan yang diperebutkan selama beberapa waktu, kemudian minta dia untuk menyerahkan mainan tersebut kepada temannya.

Sambil menunggu, Moms bisa meminta teman Si Kecil untuk memainkan mainan lain yang tersedia. Kalau masih tetap tidak mau, mintalah dia untuk lebih sabar. Hal yang sama berlaku saat Si Kecil kebagian giliran untuk menunggu.

Konsep ini memberikan banyak manfaat, selain membiasakan mereka untuk tertib dalam bermain, cara bermain secara bergiliran pun akan membuat mereka tumbuh jadi anak yang taat kepada waktu, menghormati hak-hak orang lain, dan mengerti dengan kewajibannya sendiri.

Dalam jangka panjang, teknik bermain secara bergiliran ini akan menumbuhkan sikap empati dan rasa saling menghormati satu sama lain. Selamat mencoba Moms!

artikel terkait