Artikel Parenting

Tidak Selamanya Negatif, Ternyata Tantrum Ada Gunanya Lho Dads!

27
Tidak Selamanya Negatif, Ternyata Tantrum Ada Gunanya Lho Dads!

Artikel ini berisi tentang :

  1. Apakah Tantrum Itu?
  2. Apakah Tantrum Masalah Kejiwaan?
  3. Jika Tidak Berlebihan, Tantrum Punya Sisi Positif
  4. Bagaimana Cara Mengatasi Tantrum yang Berlebih?

Saat ini masih cukup banyak orangtua yang memandang tantrum itu hal yang negatif dan tidak ada manfaatnya sama sekali untuk Si Kecil. Padahal anggapan itu tidak sepenuhnya benar.

Apakah Tantrum Itu?

Tantrum merupakan sebuah kondisi yang ditandai dengan Si Kecil yang marah-marah sambil menjerit-jerit dan menangis. Terkadang, beberapa anak akan berlaku agresif saat tantrum, dari mulai menyerang orang sekitarnya, merusak barang-barang hingga menyakiti dirinya sendiri dengan menjambak dan mencakar.

Melihat kondisinya yang sangat mengkhawatirkan, banyak orangtua yang kemudian menganggap jika tantrum merupakan sebuah kelainan yang harus segera diatas.

Apakah Tantrum Masalah Kejiwaan?

Menurut psikolog Anna Surti Ariani, MPsi., tantrum merupakan hal yang wajar terjadi pada Si Kecil yang masih berusia 1,5 s/d 4 tahun. Artinya, jika sudah berusia diatas 4 tahun tapi Si Kecil masih tantrum, berarti ada kesalahan yang terjadi pada pola asuhnya (dan ini harus segera diperbaiki).

Sementara menurut Ratih Zulhaqqi. M.psi, psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, ciri-ciri anak yang tantrum biasanya terlihat dari tangisannya yang keras, memukul dirinya sendiri, guling-guling di lantai atau memaksa.

Lebih lanjut, Ratih menyebut jika tantrum hanya sebuah ekspresi untuk menyatakan kekesalan yang luar biasa, bukan masalah kejiwaan.

Saat menghadapi anak yang tantrum, sebaiknya Dads pun jangan ikut tantrum dengan marah-marah atau membentak. Ketimbang marah, lebih baik Dads menyingkir dulu untuk merenungkan apa penyebab Si Kecil menjadi tantrum, sambil berharap Si Kecil pun mengambil kesempatan untuk menenangkan diri.

Nah setelah semuanya sudah tenang, baru Dads bisa segera mengambil solusi dengan cara berbicara dari hati ke hati dengan Si Kecil. Berikan juga pengertian jika sikap yang ditunjukannya tersebut tidak baik, dan sebaiknya jangan diulangi lagi.

Jika Tidak Berlebihan, Tantrum Punya Sisi Positif

Jacobson, peneliti dari Colorado State University Extension, menyebut jika tantrum biasanya terjadi pada anak berusia 2-3 tahun. Dalam usia ini, Si Kecil belum cukup memahami dirinya dan keinginannya. Yang dia tahu hanya memuaskan apa yang diinginkan.

Jacob pun menyebut jika tantrum merupakan hasil dari perpaduan antara energi yang tinggi, keputusasaan dan ketidakmampuan untuk mengungkapkan keinginan dalam bentuk lain, sehingga dia pun menjadi sangat emosional.

Jika dikelola dengan baik, tantrum bisa dimanfaatkan untuk mengajarkan Si Kecil tentang arti keinginan. Saat tantrum dan Dads berhasil mengelolanya dengan baik, Si Kecil akan belajar jika tidak semua keinginan bisa dipenuhi, atau minimalnya harus ditunda hingga dia benar-benar siap untuk mendapatkannya.

Sementara menurut Patty Wipfler, pendiri Hand in Hand Parenting, tantrum sebaiknya dikeluarkan. Alasannya, emosi yang terus tersimpan bisa membuatnya stres. Dampak buruknya, kondisi ini bisa  membuat perkembangan emosinya terganggu, mengalami gangguan tidur, masalah perilaku dan lainnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Tantrum yang Berlebih?

Jika sudah berlebihan dan terjadi sangat sering, tantrum sebaiknya segera diatasi. Dikutip dari Children's Hospital of Philadelphia, berikut beberapa trik yang bisa dicoba untuk mengatasi tantrum:

  1. Tetap tenang dan abaikan Si Kecil sampai dia terlihat lebih tenang.
  2. Jangan melawan dengan cara memukul atau mencubit Si Kecil. Saat dia mengamuk, sebaiknya peuk dia dengan penuh kasih sayang hingga dia tenang.
  3. Temukan alasan kenapa Si Kecil tantrum, kemudian beri pengertian jika setiap keinginan tidak bisa langsung dipenuhi. Ada yang harus ditunda, ada pula yang sebaiknya tidak direalisasikan.
  4. Jangan menyerah pada kemarahan Si Kecil. Ketika Dads menyerah dan memberikan apa yang diinginkannya, Si Kecil akan belajar menggunakan tantrum saat dia menginginkan sesuatu.
  5. Arahkan perhatian Si Keecil pada sesuatu yang lain, dan singkirkan benda-benda yang berpotensi berbahaya bagi Si Kecil dan bisa membahayakan orang lain.
  6. Berikan pujian dan penghargaan jika perilaku tantrumnya sudah selesai.

Kesimpulannya, tantrum bukanlah suatu penyakit kejiwaan yang harus ditanggapi secara berlebih. Tapi Dads pun jangan membiarkannya terus berlarut-larut dan tidak pernah memberikan solusi yang tepat. Alih-alih mereda, tantrum justru bisa membuat perkembangan emosional Si Kecil terganggu.

artikel terkait