Artikel Parenting

Si Kecil Harus "Dikerasin" Agar Nurut. Ini Pendapat Pakar!

0
Si Kecil Harus

Artikel ini berisi tentang:

  1. Tidak Nurut, Bisa Jadi Upaya Si Kecil Cari Perhatian
  2. Hukuman Bukan Solusi Terbaik
  3. Sering “dikerasin” Cenderung Memiliki IQ yang Rendah
  4. Bagaimana Solusi Agar Si Kecil Patuh?

Ada banyak gaya mendidik yang diadopsi Indonesia, dan kebanyakan mereka adopsi dari pola asuh orang tua masing-masing saat membesakan mereka dulu. Salah satunya metode Reward And Punishment. Dalam pola asuh ini, Si Kecil akan diberi hadiah jika mereka menurut, dan dihukum jika tidak menurut.

Tidak Nurut, Bisa Jadi Upaya Si Kecil Cari Perhatian

Pada dasarnya, di usia balita merupakan waktu yang tepat untuk mengajarkan Si Kecil jadi kuat dan mandiri. Tapi perlu ditekankan, mereka masih butuh Dad untuk menemaninya. (oleh Andrew Wenger, PhD, Profesor Psikologi di University of Miami, Amerika)

Hal inilah yang membuat Si Kecil melakukan aksi memberontak dengan cara tidak menurut. Tujuannya, agar Dad lebih memperhatikan dan berada dekat dengan mereka. Selain itu, ada beberapa sebab lainnya kenapa Si Kecil tidak nurut atau hobi memberontak, diantaranya adalah :

  1. Karena pola asuh yang kurang tepat, misalnya Dad terlalu sering membentaknya saat dia melakukan kesalahan, sehingga dia terbiasa dengan hukuman.
  2. Emosi Si Kecil tidak stabil karena selama di dalam kandungan, Dad sangat mudah menangis, stres, kurang mendapat perhatian dan lainnya.
  3. Si Kecil terlalu banyak dilarang, sehingga dia melampiaskan emosinya dengan cara memberontak atau bersikap tidak patuh.

Selain itu, masih banyak hal lainnya yang membuat Si Kecil jadi sering membantah dan bersikap tidak patuh. Yang perlu Dad lakukan adalah, kenali penyebabnya dan cari solusi terbaik untuk mengatasinya.

Hukuman Bukan Solusi Terbaik

Memberikan hukuman agar Si Kecil patuh bukanlah keputusan bijak. Selain menyebabkan trauma, kebiasaan ini pun bisa menyebabkan Si Kecil terbiasa dengan kekerasan, berpotensi menghasilkan generasi penuh dengan kekerasan lainnya dan menunjukkan perilaku anti-sosial saat dewasa nanti.

Lebih parahnya lagi, kebiasaan memukul, membentak, mencubit dan memberikan hukuman fisik untuk membesarkan Si Kecil, berpotensi menyebabkan Si Kecil jadi pelaku bullying.  (oleh Elizabeth Gershoff, peneliti dari The University of Texas, Amerika)

Dampak buruk lainnya dari terbiasa memberikan hukuman fisik adalah, Si Kecil jadi mudah marah, mudah frustasi, sulit mengendalikan emosi, dan lainnya. Selain itu, hal ini pun bisa menyebabkan Si Kecil mudah cemas dan tidak percaya diri. (oleh psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi.)

Sering “dikerasin” Cenderung Memiliki IQ yang Rendah

Penelitian yang dilakukan di Universitas New Hampshire, Amerika, membuktikan jika anak yang sering mendapat pukulan, cubitan, dibentak dan kekerasan lainnya, cenderung memiliki tingkat IQ yang rendah ketimbang mereka yang jarang mendapat kekerasan.

Hal ini umumnya disebabkan karena trauma yang diterima Si Kecil akan dibawa hingga dewasa, dan membuatnya tidak percaya diri, selalu dalam tekanan, dan tidak bebas dalam mengekspresikan diri.

Selain itu, kekerasan pun akan menyebabkan Si Kecil stres dan rentan depresi. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan menyebabkan kemunduran dalam kemampuan mentalnya. (oleh Mallie Paschall, peneliti dari Institute for Research and Evaluation di Maryland, Amerika)

Bagaimana Solusi Agar Si Kecil Patuh?

Tanpa dikerasin,  sebenarnya Si Kecil bisa jadi anak yang patuh. Caranya mudah, yakni mengenali penyebab kenapa Si Kecil sering bersikap tidak patuh. Setelah itu, lakukan counter strategi sebagai solusinya. (oleh hipnoterapis klinis, Dra. MTh. Widya Saraswati, CCH, CT)

Selain itu, berikut merupakan trik mengubah sikap Si Kecil yang tadinya sering bersikap tidak patuh, jadi penurut, tanpa harus menggunakan kekerasan.

  1. Buat aturan di rumah, dan libatkan Si Kecil dalam membuat aturan tersebut. Jika ada aturan yang menurutnya berat, minta pendapatnya untuk mencari aturan pengganti.
  2. Jika Si Kecil berbuat salah, beritahu apa kesalahannya, dan dorong untuk meminta maaf atas kesalahannya. Cara ini berfungsi untuk mengingatkan dia jika apa yang dilakukannya salah!
  3. Hindari berbicara dengan nada tinggi saat memberitahu kesalahan Si Kecil, tapi bicaralah dengan nada lembut, dengan kalimat yang mudah dimengerti, dan peluk dia saat mengakuinya
  4. Beri kesempatan Si Kecil untuk melakukan pembelaan. Tapi ingat, Dad harus menyiapkan pembantahan dengan cara yang cerdas, tanpa memaksakan pendapat.
  5. Berilah pujian dan apresiasi jika Si Kecil berhasil bertindak patuh.

Perlu diingat, membuat Si Kecil agar patuh memang butuh proses yang cukup panjang. Jangan menyerah Dad, yang paling penting adalah, tegakkan dulu aturan tanpa banyak kompromi. Lambat laun mereka pun akan mengikuti dan belajar jadi anak yang penurut. Selamat mencoba!

artikel terkait