Yuk Berkenalan Dengan Pola Asuh Otoritatif. Cocok Diterapkan di Indonesia?

Merries Insight
15 Juli 2019
Kesehatan
Share
Yuk Berkenalan Dengan Pola Asuh Otoritatif. Cocok Diterapkan di Indonesia?

Artikel ini berisi tentang :

  1. Seperti apa pola asuh otoritatif?
  2. Ciri Dari Pola Asuh Otoritatif
  3. Kenapa ideal di Indonesia?
  4. Bagaimana cara menerapkan pola asuh ini?

Ada cukup banyak pola asuh di Indonesia yang bisa Moms terapkan pada Si Kecil, salah satunya pola asuh otoritatif. Konon katanya, pola asuh ini sangat cocok diterapkan di Indonesia, bahkan sebagian besar orang tua di Indonesia secara tidak sadar sudah menerapkannya.

Seperti apa pola asuh otoritatif?

Pengasuhan otoriter merupakan pola asuh yang memungkinkan Moms untuk menetapkan aturan dengan konsisten, tanpa mengekang kebebasan Si Kecil. (oleh Katie Hurley, LCSW, psikolog tumbuh kembang anak, psychotherapist, parenting expert, sekaligus penulis buku No More Mean Girls)

Menurut Katie, ini merupakan kombinasi ideal antara hubungan, empati dan harapan sesuai dengan tumbuh kembang Si Kecil. Selain itu, pola asuh ini pun memungkinkan Si Kecil untuk mengembangkan kecerdasan emosi, sosial, sekaligus kecerdasan akademiknya.

Di sisi lain, dalam pola asuh ini Moms akan dituntut untuk mengetahui bagaimana kondisi emosi Si Kecil (misal, saat keinginannya ditolak), dan menselaraskannya dengan memberi penjelasan kenapa keinginan Si Kecil ditolak, atau ditangguhkan.

Moms dituntut untuk mendengarkan Si Kecil, dan mendukung mereka saat menghadapi rintangan, meluruskan saat melakukan kesalahan dan memberi petunjuk saat mereka bingung.

Ciri Dari Pola Asuh Otoritatif

Secara garis besar, ada beberapa ciri khas dari pola asuh otoritatif, diantaranya adalah :

  1. Pola asuh ini mengedepankan komunikasi 2 arah. Si Kecil dibebaskan berpendapat, mengutarakan keinginannya, dan lainnya, sementara Moms bertugas sebagai filter.
  2. Selalu membawa kepada diskusi yang terbuka, bebas tanpa tekanan. Keputusan akan diambil setelah Moms mempertimbangkan dampak baik dan buruknya.
  3. Meskipun Moms punya harapan dan tuntutan kepada Si Kecil, tapi harapan dan tuntutan ini harus disesuaikan dengan kondisi dan potensi yang dimiliki.
  4. Memperlakukan Si Kecil sebagai teman sekaligus rekan dalam keluarga, dengan batasan tertentu sesuai dengan norma dan budaya setempat.
  5. Pola asuh ini mengedepankan kemandirian, tanggung jawab, dan disiplin dalam menegakkan aturan yang berlaku dalam keluarga.

Ciri khas lainnya yang membedakan pola asuh otoritatif dengan pola asuh lainnya adalah, ada garis koordinasi yang jelas sebagai bagian dari prosedur baku.

Misal, saat Si Kecil ingin bersekolah di sekolah A, Moms mendiskusikan ini dengan Si Kecil terkait alasan ingin bersekolah di sana, kemudian Moms berdiskusi dengan pasangan sebagai pembuat keputusan, dan keputusan tersebut disampaikan kepada Si Kecil, lengkap dengan syarat dan ketentuannya.

Kenapa ideal di Indonesia?

Sebenarnya pola asuh otoritatif cocok diterapkan di mana saja, terutama di Indonesia yang memang secara tradisi, orang tua berada di posisi teratas keluarga sebagai pembuat keputusan, sebagai orang yang dihormati, sekaligus sebagai pendengar yang baik.

Berikut merupakan beberapa alasan kenapa pola asuh otoritatif sangat cocok, dan merupakan salah satu pola asuh paling ideal untuk diterapkan di Indonesia.

  1. Si Kecil dituntut untuk memposisikan orangtua sebagai orang yang harus dihormati, didengar, dan disayangi. Ini sesuai dengan tradisi masyarakat Indonesia yang kerap memuliakan orangtua.
  2. Sebagai pembuat keputusan, Moms dituntut untuk memberikan pandangan yang bijak, misalnya alasan kenapa diizinkan dan tidak diizinkan. Dengan cara ini, Si Kecil pun akan diajarkan bagaimana caranya bijak dalam melihat situasi.
  3. Si Kecil memiliki kebebasan untuk mengutarakan keinginan dan mengekspresikan suasana hatinya, dalam batasan tertentu. Hal ini akan membuat Si Kecil harus belajar mempertimbangkan, belajar mendengarkan, dan belajar menempatkan kebebasan dalam batasan yang wajar.
  4. Si Kecil diajarkan untuk hidup mandiri, dan bertanggung jawab dengan pilihannya, dengan dukungan langsung dari Moms.

Dengan kata lain, pola asuh otoritatif ini sangat mengedepankan interaksi antara Moms dan Si Kecil, memberikan kebebasan dengan batasan sesuai dengan ukuran norma dan budaya Indonesia.

Bagaimana cara menerapkan pola asuh ini?

Seperti dijelaskan di atas, sebenarnya tanpa sadar sudah banyak orangtua di Indonesia yang menerapkan pola asuh ini. Contohnya, Si Kecil dituntut untuk selalu meminta izin saat ingin melakukan sesuatu, kemudian Moms dan pasangan akan bertindak sebagai pembuat keputusan.

Contohnya, saat Si Kecil ingin hujan-hujanan, dia pun meminta izin, “Ma, boleh adek hujan-hujanan?”. Di sini, Moms bisa melarang Si Kecil dengan alasan khawatir sakit, atau boleh mengizinkan, dengan catatan, dia harus makan sup (Si Kecil sebelumnya tidak suka sup), setelah hujan-hujanan.

Jelaskan juga alasan kenapa mewajibkan Si Kecil harus mengonsumsi sup, misalnya untuk meningkatkan daya tahan tubuh, menghangatkan tubuhnya dan manfaat lainnya dari sup. Dengan cara ini, Si Kecil minimalnya tahu ada tanggung jawab yang harus dipenuhi setelah hujan-hujanan.

Menariknya, sadar atau tidak pola asuh otoritatif justru lebih banyak diadopsi di sekolah. Misalnya, untuk bisa keluar kelas, Si Kecil harus meminta izin kepada guru yang bertugas dengan menjelaskan alasan kenapa harus keluar kelas. Misalnya saat ingin pergi ke WC dan lainnya.

Hal yang sama harus dilakukan saat Si Kecil berniat untuk meminjam buku di perpustakaan (harus sepengetahuan petugas perpustakaan, dan ada batas waktu pengembalian), meminjam mainan yang disediakan pihak sekolah, dan lainnya.

Semua penerapan disiplin tersebut pada dasarnya pengembangan dari pola asuh otoritatif yang Moms terapkan di rumah. Sehingga, dengan pola asuh ini Si Kecil akan dibiasakan untuk tertib dan berani untuk meminta izin saat ada hal yang ingin dia sampaikan.