Menu MPASI 6 Bulan untuk Tumbuh Kembang Bayi yang Optimal

Merries Insight
03 Maret 2020
Umum
Share
Menu MPASI 6 Bulan untuk Tumbuh Kembang Bayi yang Optimal

Menginjak usia 6 bulan, Si Kecil mulai diperkenalkan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Ya, mulai usia 6 bulan, bayi membutuhkan tambahan zat-zat gizi dari makanan dan minuman, selain dari Air Susu Ibu (ASI) yang selama ini diberikan ibu secara eksklusif. Tentunya Moms perlu mengetahui bagaimana menu MPASI 6 bulan agar bayi dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.

Nah, selain untuk memenuhi kebutuhan zat-zat gizi,  pemberian MPASI pada usia 6 bulan juga sebagai persiapan Si Kecil mengkonsumsi makanan semi padat secara bertahap. Hingga kelak pada usia 12 bulan, ia mulai mampu mengkonsumsi makanan keluarga.

Lalu, bagaimana cara Moms mengetahui kesiapan Si Kecil untuk mendapatkan makanan dan minuman selain ASI? Nah, berikut ini tanda-tanda perkembangan bayi usia 6 bulan yang perlu Moms ketahui:

  • Si Kecil dapat duduk dengan sedikit atau tanpa ditopang/dipegang.
  • Bayi sudah memiliki kemampuan kontrol kepala yang baik.
  • Si Kecil sudah bisa membuka mulutnya sendiri.

Kemudian, seperti apa menu MPASI 6 bulan yang perlu dikenalkan pada Si Kecil?  Sebenarnya tidak ada patokan baku atau aturan-aturan tertentu dalam pemberian menu MPASI 6 bulan. Yang pasti, Moms mulai dapat memberikan jenis makanan bervariasi, tidak dibatasi pada bahan pangan tertentu. Sebut saja misalnya, sereal, daging atau sumber protein lainnya, buah-buahan, sayuran, biji-bijian, yogurt dan keju, dan banyak lagi.

Selanjutnya, bagaimana cara Moms mengenalkan menu MPASI 6 bulan ini? Pada awalnya, coba berikan Si Kecil untuk mencoba satu jenis makanan saja. Moms coba pantau apakah makanan tersebut misalnya menimbulkan efek alergi atau tidak. Pantau dan tunggu hingga 3-5 hari kemudian, baru coba berikan jenis makanan lainnya. Jadi hindari memberikan menu MPASI 6 bulan ini secara sekaligus dengan beragam jenis makanan. Di sisi lain juga biar bayi mencoba mencicipi dan menikmati beberapa ragam makanan baru.

Perlu Moms perhatikan, ada beberapa jenis bahan pangan yang umumnya menimbulkan efek alergi. Di antaranya adalah susu, telur, ikan, kerang, kacang tanah, gandum, dan kedelai. Meski begitu, Moms tak perlu menunda memperkenalkan ragam makanan ini kepada Si Kecil. Akan tetapi, jika Moms memiliki riwayat keluarga mengalami alergi makanan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dulu, ya.

Lalu, bagaimana cara menyiapkan menu MPASI 6 bulan ini? Tentunya akan lebih mudah bagi Si Kecil bila mengkonsumsi makanan yang sudah dihaluskan atau disaring dan teksturnya sangat halus. Butuh waktu bagi bayi untuk menyesuaikan diri dengan tekstur makanan baru. Si Kecil mungkin akan menunjukkan reaksi seperti batuk bahkan muntah. Tapi Moms tak perlu khawatir berlebihan karena ini merupakan proses adaptasi bayi terhadap menu MPASI 6  bulan ini. Kelak, seiring perkembangan keterampilan mulut bayi, makanan yang lebih tebal dan kental bisa Moms perkenalkan.

Jadi, pastikan dengan seksama menu MPASI 6 bulan ini teksturnya sudah benar-benar halus dan lembut, ya Moms. Hal ini untuk menghindari risiko tersedak pada bayi. Pastikan pula makanan tersebut mudah larut dengan air liur dan tak perlu lagi dikunyah oleh Si Kecil.  Hal penting lainnya, pastikan memberikan menu MPASI 6 bulan ini dengan porsi yang kecil sehingga bayi dapat makan secara perlahan. Yang jelas, Moms perlu memperhatikan terus saat Si Kecil makan, ya!

 

TIPS MENYIAPKAN MENU MPASI

Nah, berikut beberapa tips untuk menyiapkan menu MPASI untuk Si Kecil:

  • Campur sereal dan biji-bijian yang sudah dihaluskan dengan ASI atau air agar teksturnya menjadi lembut atau lunak sehingga mudah ditelan bayi.
  • Hancurkan atau haluskan sayuran, buah-buahan dan makanan lain sampai halus.
  • Buah dan sayuran keras, seperti apel dan wortel biasanya perlu dimasak agar mudah dihaluskan.
  • Masak bahan pangan tersebut sampai cukup lunak agar mudah dihaluskan dengan garpu.
  • Buang semua lemak, kulit, dan tulang dari bahan pangan unggas, daging, dan ikan, sebelum dimasak.
  • Keluarkan biji dan bagian-bagian yang keras lainnya dari buah lalu buah dipotong dengan ukuran kecil-kecil.
  • Potong makanan yang lunak menjadi potongan kecil atau irisan tipis.
  • Potong makanan yang berbentuk silindris seperti sosis, dan keju menjadi potongan tipis dan pendek. Hindari potongan bundar yang bisa berisiko tersangkut di saluran napas.
  • Potong makanan kecil bulat seperti anggur, ceri, beri dan tomat menjadi potongan-potongan kecil.
  • Masak dan giling halus atau tumbuk biji-bijian, gandum, beras, dan biji-bijian lainnya.

Lalu, berapa banyak dan seberapa sering memberi MPASI pada bayi? Sebenarnya, dari rentang usia 6-12 bulan, ASI masih merupakan sumber gizi utama untuk Si Kecil. Akan tetapi, makanan padat secara bertahap perlu diberikan untuk memenuhi kebutuhan gizi agar tumbuh kembangnya optimal. Nah, untuk mengetahui berapa banyak makanan yang perlu diberikan pada bayi, perhatikan hal-hal berikut ini ya Moms:  

  • Mulailah dengan porsi yang sedikit. Berikan 1 atau 2 sendok makan makanan dan perhatikan tanda-tanda apakah Si Kecil masih lapar atau kenyang.
  • Berikan MPASI dari waktu ke waktu dan secara bertahap.
  • Beri Si Kecil sesuatu untuk dimakan atau diminum setiap 2- 3 jam, atau sekitar 5- 6 kali sehari. Atau sederhananya, berikan Si Kecil makanan sekitar 3 kali makan dan 2-3 camilan setiap hari.

Nah, seiring bertambahnya usia anak, ia mungkin mengonsumsi makanan dalam jumlah berbeda setiap hari. Hal ini normal tentunya. Mulai sekitar usia 12 bulan, anak tumbuh lebih lambat dibandingkan usia sebelumnya. Meski begitu, tetap pastikan Si Kecil mendapatkan asupan makanan sesuai kebutuhannya. Jika Moms ingin lebih tahu seberapa banyak kebutuhan makanan anak dan hal-hal lainnya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter ahli.

Baca Juga : Deteksi Masalah Tumbuh Kembang Bayi Sejak Dini

WASPADAI BAHAYA TERSEDAK

Anak berusia 6 hingga 12 bulan sedang belajar cara mengunyah dan menelan makanan. Bukan bermaksud menakut-nakuti tapi risiko tersedak bisa terjadi. Perhatikan baik-baik apa yang dimakan oleh Si Kecil ya Moms.

Moms perlu menghindari atau mencegah risiko tersedak pada Si Kecil dengan cara berikut ini:

  • Pastikan posisi bayi makan sambil duduk atau tidak berbaring.
  • Sebaiknya duduk di kursi khusus bayi atau tempat duduk yang nyaman dan aman untuk Si Kecil.
  • Hindari makan di dalam mobil atau kereta dorong.
  • Pastikan Moms memasak dan menyiapkan makanan dengan cara yang sesuai untuk perkembangan Si Kecil.

Ya, cara menyiapkan makanan yang keliru dapat meningkatkan risiko tersedak pada Si Kecil. Misalnya, makanan yang disajikan mentah, utuh, atau dalam bentuk tertentu bisa menimbulkan bahaya tersedak. Memotong makanan menjadi potongan-potongan kecil dan menumbuk makanan dapat menghindari atau mencegah risiko tersedak. Berikut ini adalah contoh potensi bahaya tersedak:

Buah / Sayuran:

  • Biji jagung utuh yang dimasak atau mentah
  • Potongan tomat ceri atau anggur
  • Potongan buah atau sayuran mentah yang keras
  • Potongan anggur, beri, ceri, atau bola melon
  • Buah kering mentah seperti kismis

Protein:

  • Kacang dan mentega utuh atau cincang seperti selai kacang
  • Potongan daging yang besar
  • Hot dog, stik daging, atau sosisIkan dengan tulang
  • Potongan keju besar
  • Produk Gandum
  • Jagung
  • Roti dengan biji, potongan kacang, atau biji gandum utuh
  • Biji utuh dari nasi, gandum, gandum, atau biji-bijian lainnya

 

MAKANAN YANG HARUS DIHINDARI

Berikut adalah contoh makanan dan minuman yang harus Moms hindari untuk diberikan kepada Si Kecil karena mungkin berbahaya:

  • Madu: dapat menyebabkan keracunan serius yang disebut botulisme. Sebelum anak berusia 12 bulan, jangan memberinya makanan yang mengandung madu, termasuk yogurt dengan madu dan sereal dan biskuit dengan madu.
  • Minuman atau makanan yang tidak dipasteurisasi (seperti jus, susu, yogurt, atau keju): dapat membuat anak berisiko terhadap E. coli, bakteri berbahaya yang dapat menyebabkan diare parah.
  • Susu sapi yang difortifikasi dapat menyebabkan anak di bawah 12 bulan berisiko mengalami pendarahan usus.