Cara Mengetahui Jenis Kelamin Janin, Laki atau Perempuan?

Merries Insight
12 November 2020
Umum
Share
Cara Mengetahui Jenis Kelamin Janin, Laki atau Perempuan?

Hal yang sangat dinanti calon Moms dan Dads adalah mengetahui jenis kelamin janin yang ada di dalam kandungan. Pastinya Moms sudah tidak sabar, kan? Sebenarnya organ genital janin sudah mulai terbentuk sejak usia 6 minggu, akan tetapi masih terlalu kecil untuk dapat dideteksi. 

Kapankah bisa mengetahui jenis kelamin janin?

Jenis kelamin janin baru dapat terlihat jelas di usia kehamilan 16 minggu. Maka yang disarankan oleh dokter kandungan untuk memeriksa jenis kelamin pada calon bayi di usia kehamilan 18-20 minggu atau sekitar 4-5 bulan. Bilamana belum terlihat, Moms tidak perlu khawatir. Biasanya dokter akan mengulangi prosedur pengecekan itu ke 1 bulan kemudian, atau pada jadwal check up selanjutnya. 

Berikut cara mengetahui jenis kelamin bayi yang bisa Moms lakukan:

1. Ultrasonografi (USG) 

Ultrasonografi (USG) adalah tes prenatal rutin yang dilakukan dengan memindai perut ibu hamil menggunakan gelombang suara untuk menggambarkan janin. Tes ini sering digunakan dalam memeriksa perkembangan dan kesehatan bayi. 

Selain itu USG juga bisa mengungkap jenis kelamin bayi dan dokter akan menginformasikan bila kelamin janin sudah terlihat. Biasanya untuk melihat kelamin janin dengan USG sekitar 18-21 minggu kehamilan dan paling cepat pada minggu ke–14.

Akan tetapi, ini tidak 100 persen akurat karena posisi bayi yang sulit untuk melihat alat kelamin janin. Sehingga harus berulang kali untuk memastikan agar tidak salah. 

2. Non-invasive prenatal test (NIPT) 

Selain USG, Moms juga bisa dengan melakukan tes NIPT, yaitu tes darah untuk mendeteksi kelainan kromosom mulai dari 10 minggu kehamilan. Moms akan diberikan sampel darah yang kemudian diperiksa di laboratorium terkait dengan DNA janin. Tes ini bisa terbilang akurat dalam menentukan jenis kelamin janin dan tidak menimbulkan risiko bagi bunda maupun janin. Moms mungkin membutuhkan NIPT jika terdapat risiko tinggi seperti memiliki bayi dengan kelainan kromosom, pernah melahirkan bayi dengan kelainan, atau jika Moms berusia di atas 35 tahun.

Baca Juga : Deteksi Masalah Tumbuh Kembang Bayi Sejak Dini

3. Amniosentesis

Tes ini bisa bisa juga membantu mendeteksi masalah pada perkembangan janin, dengan cara mengumpulkan sedikit cairan ketuban yang mengandung sel-sel yang menunjukkan kelainan. Prosedurnya adalah dokter akan menusukkan jarum ke dinding perut Moms untuk mendapat air ketuban sebagai sampel. Dokter akan mengambil sekitar 30 ml cairan ketuban. Tidak perlu khawatir untuk melakukan tindakan ini, dokter akan memberikan obat bius terlebih dahulu pada Moms. Sel-sel ini selanjutnya diuji untuk menentukan down syndromespina bifida, dan kondisi genetik lainnya.

Selain itu, amniosentesis juga dapat mengidentifikasi jenis kelamin janin Moms. Akan tetapi, dokter hanya akan merekomendasikan tes ini bilamana janin mengalami kelainan atau jika Moms hamil di saat usia 35 tahun, karena sangat berisiko untuk Moms dan janin. Selain itu, bila Moms memiliki riwayat keluarga yang memiliki gangguan kromosom, tes ini mungkin dilakukan. Tes ini dapat dilakukan sekitar 15-18 minggu kehamilan. 

4. Chorionic villus sampling (CVS) 

Chorionic villus sampling merupakan salah satu tes genetik dengan mengambil sampel vilus korionik yang merupakan jenis jaringan pada plasenta. Tes ini biasanya digunakan untuk mendeteksi kelainan genetik atau kromosom. Akan tetapi tes CVS juga dapat mengungkap informasi genetik tentang janin Moms sehingga dapat mengetahui jenis kelaminnya. 

Tes ini biasanya dilakukan pada minggu ke-10 atau ke-12 kehamilan. Dokter akan merekomendasikan CVS jika Moms berusia di atas 35 tahun atau memiliki riwayat keluarga dengan kelainan kromosom. Ini adalah tes yang akurat untuk mengetahui jenis kelamin bayi, namun memiliki beberapa risiko, seperti kram, pendarahan, bocor ketuban, dan lainnya.

Itulah merupakan beberapa tes yang bisa Moms lakukan bila ingin segera mengetahui jenis kelamin janin. Bagaimana apakah Moms mau mencobanya? Selain itu, Moms mungkin pernah mendengar beberapa mitos orang dahulu yang katanya dapat menebak jenis kelamin calon bayi, seperti berikut:

5. Tinggi rendahnya perut ibu hamil

Sering sekali kita mendengar tentang tinggi rendahnya perut Ibu hamil. Bila menggantung rendah maka janin berkelamin laki-laki, namun jika tinggi perut Ibu hamil maka janin berjenis kelamin perempuan. Akan tetapi, itu hanyalah mitos belaka. Sebab tinggi rendahnya perut Ibu hamil itu dipengaruhi otot-otot perut dan posisi janin berada. Selain itu, berkaitan dengan bentuk tubuh ibu dan berat badan yang dimilikinya, bukan jenis kelamin bayi.

6. Ritme jantung janin

Ritme jantung janin berdetak lebih cepat dari 140 denyut per menit maka janin merupakan bayi perempuan dan bila kurang dari angka tersebut maka kemungkinan janin berkelamin laki-laki. Namun, itu hanyalah mitos karena jantung bayi umumnya berdetak lebih cepat selama 28-30 minggu pertama kehamilan.

7. Ngidam ibu hamil

Moms pasti sering mengalami ngidam, ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh ibu hamil dapat meminta makanan apa saja yang diinginkan kepada calon ayah. Jika mengonsumsi makanan manis, seperti coklat, biskuit atau permen, maka Moms dianggap mengandung bayi laki-laki. Namun, ketika Moms menginginkan makanan asam atau asin, maka Moms sedang mengandung bayi perempuan. Lagi-lagi, ini hanyalah mitos belaka. Mengidam adalah dampak dari perubahan hormon yang terjadi dalam kehamilan dan meningkatnya indera penciuman Anda. Jadi tidak berpengaruh pada apa jenis kelamin janin nantinya. 

8. Posisi bayi

Posisi bayi pun menjadi mitos cara bayi berbaring telentang di perut Moms, itu menandakan bunda mengandung anak perempuan dan bila berbaring telungkup, bayinya akan menjadi anak laki-laki. 

9. Rumus matematika

Mitos ini mengatakan Moms dapat menghitung berdasarkan usia wanita hamil ditambah bulan kelahiran ditambah bulan konsepsi. Dimulai 14 hari setelah hari pertama menstruasinya. Bila hasilnya genap maka janin perempuan, sedangkan janin laki-laki jika hasilnya ganjil. Ini juga masuk kategori mitos yang banyak diyakini orang.

Baca Juga : 7 Cara Mengatasi Ruam Popok yang Perlu Moms Tahu

10. Mengecek dengan minyak

Mitos lainnya adalah menuangkan sedikit minyak ke perut Moms dibagian tertinggi. Maka bila  minyak mengalir dengan cepat, janin itu laki-laki. Jika tidak, janin itu perempuan.

11. Ketahui cara Anda berjalan

Cara Moms berjalan ketika hamil pun tidak luput dari perhatian. Jika saat hamil Moms terbiasa berjalan menggunakan kaki kanan terlebih dahulu, maka Moms “akan” memiliki bayi laki-laki dan sebaliknya bila kaki kiri terlebih dahulu maka bayi seorang perempuan. Mitos ini juga banyak beredar di masyarakat.

12. Suasana hati 

Suasana hati Moms ketika mengandung bayi perempuan akan terlihat berubah-ubah dan lebih emosional . Sebaliknya, bila Moms mengandung bayi laki-laki maka suasana hati akan lebih stabil dan tidak sering morning sickness.  Hal tersebut sebenarnya juga dipengaruhi oleh hormon yang diproduksi tubuh ketika sedang mengandung si Kecil.

14. Cek bentuk payudara

Bentuk payudara Moms saat hamil juga konon bisa menjadi perkiraan untuk menentukan jenis kelamin janin. Jika payudara kiri lebih besar maka bunda akan memiliki bayi perempuan dan sebaliknya. Selain itu, lingkaran hitam pada payudara bila warnanya lebih menghitam daripada sebelumnya, maka bayi berjenis kelamin laki-laki. Tentunya, ini hanya sebatas mitos belaka

15. Ayah yang menggemuk

Kali ini sang calon ayah pun ikut terlibat dalam menentukan jenis kelamin janin. Bila ayah terlihat lebih gemuk dari sebelumnya maka bisa jadi Anda sedang mengandung anak perempuan. Dan para peneliti Denmark melakukan penelitian terhadap 100 calon Ayah dan menemukan bahwa memang mereka yang memiliki bayi perempuan, lebih gemuk daripada mereka yang memiliki bayi laki-laki. Namun, Moms dan Dads jangan percaya 100%, ya. Tentunya ada banyak penjelasan ilmiah tentang korelasi tersebut.

Nah, Moms, makin penasaran ingin tahu lebih jelas apa jenis kelamin sang janin? Pastikan menggunakan metode yang disarankan oleh dokter dan tak perlu meyakini mitos-mitos ya Moms!