Yuk Moms Bantu Batita Pahami Emosinya

Merries Insight
10 Februari 2015
Tumbuh Kembang
Share
Yuk Moms Bantu Batita Pahami Emosinya

Berbicara soal pemahaman emosi yang dirasakan oleh batita memang sulit dijabarkan. Terkadang moms yang tak lain adalah orang tua si batita juga kurang bisa memahami emosi batitanya. Kecerdasan emosi batita adalah kemampuan batita untuk peduli dan mengenal perasaan orang lain, serta menghubungkkan emosi orang lain dengan emosi dirinya. Fase ini termasuk dalam fase pengembangan. Batita usia 3 hingga 4 tahun biasanya sudah dapat membaca kondisi dan meresponnya dengan cara berbeda (sesuai dengan usianya). Misalnya, mencium atau memeluk. Namun ketika anak mulai memasuki masa awal sekolah, si anak masih mempunyai tendeni egosentris (ego lebih besar bila dibandingkan dengan anak-anak lain). Situasi ini menjadikan si anak tidak mudah untuk berempati secara tulus pada orang lain.

Anak tidak bisa mengembangkan dan mengelola emosinya sendiri. Tentu moms harus membantu mengelola dan mengembangkan emosinya. Kecerdasan emosi anak yang baik dapat membantu anak lebih mudah untuk menjalin pertemanan dengan anak-anak lainnya. selain hubungan pertemanan, jalinan kekeluargaan dengan orang tua dan saudara-saudara juga akan terjalin dengan baik. Bahkan kesuksesan di sekolah pun dapat diraihnya dengan mudah. Jadi secara umum kecerdasan emosi anak yang terkelola dengan baik dapat membentuk perilaku positif pada diri anak tersebut.

Lantas bagaimana caranya untuk membantu balita memahami emosinya? Salah satu caranya yaitu dengan melalui pengalaman-pengalaman langsung seperti meminta si anak untuk mengingat cerita-cerita dongeng khususnya cerita dongeng Snow White dan 7 kurcacinya yang memiliki sifat yang berbeda-beda. Mintalah anak anda untuk berpura menjadi kurcaci Happy, Grumpy, Bashful, dll. Saat si anak sedang memeranka Happy, jelaskan pada anak anda bahwa si Happy memiliki saudara sepupu seperti Guilty, Sad, Excited, dan masih banyak nama sepupu si Happy lainnya. Lalu anda minta anak anda untuk memainkan peran salah satu saudara sepupu Happy. Sad, misalnya. Anda jelaskan karakter Sad seperti apa saja, dan begitu seterusnya. Jadi setiap hari anak anda dilatih untuk memerankan karakter yang berbeda agar anak anda dapat mengenal berbagai jenis karakter yang nantinya akan dialami saat sudah besar nantinya.