Deteksi Masalah Tumbuh Kembang Bayi Sejak Dini

Deteksi Masalah Tumbuh Kembang Bayi Sejak Dini

Siapapun termasuk Moms, pastinya menginginkan buah hatinya tumbuh dan berkembang dengan optimal. Namun, ada kalanya ditemui masalah perkembangan pada Si Kecil. Bila hal itu diketahui sejak dini, tentunya bisa segera dilakukan penanganan yang tepat. Dengan begitu, risiko bayi mengalami keterlambatan perkembangan dapat diminimalkan dan proses tumbuh kembang bayi tetap berlangsung dengan baik.

Memang secara prinsip, tumbuh kembang bayi berlangsung secara individual dengan cara serta waktu yang berbeda-beda. Misalnya, ketika bayi Moms dapat berdiri, belum tentu bayi yang usianya sama dapat melakukan hal serupa. Bisa jadi kemampuannya muncul lebih dulu, bersamaan atau justru lebih lambat.

Jadi, setiap bayi pada umumnya memerlukan waktu untuk dapat mengembangkan berbagai kemampuannya. Di antaranya adalah kemampuan motorik halus dan kasar, kemampuan bahasa, kognitif, sensorik, dan emosional. Orangtua tentu harus memiliki kemampuan menstimulasi bayi sesuai dengan usianya.

Namun, Moms juga penting untuk memperhatikan bila kemungkinan terjadi masalah tumbuh kembang bayi. Persoalan tumbuh kembang bayi ini dapat terjadi pada salah satu kemampuannya saja atau bahkan bisa lebih. Bila persoalan terjadi pada seluruh kemampuan bayi, maka disebut keterlambatan perkembangan global (global development delay). Nah, berikut ini uraian mengenai berbagai permasalahan tumbuh kembang bayi dan bagaimana penanganannya.

Baca Juga : Yuk, Kenali Tahapan Tumbuh Kembang Bayi Usia 0-12 bulan

Masalah Perkembangan Motorik Kasar

Penyebab masalah perkembangan bayi terkait motorik kasar di antaranya karena adalah keterlambatan perkembangan kognitif, gangguan pada otak, gangguan pada otot, masalah pada penglihatan dan lainnya. 

Adapun gejala masalah perkembangan motorik kasar ini, seperti di usia 3-4 bulan dengan bayi belum mampu mengangkat kepalanya, mendorong kaki ke bawah. Pada usia 5-7 bulan di mana bayi belum bisa duduk tanpa bantuan, berguling, mengubah posisi duduk sendiri, ototnya kaku dan kencang. Lalu, telah berusia 8-12 bulan tapi bayi belum mampu berdiri sendiri sambil berpegangan atau menarik badannya untuk berdiri sendiri. Terakhir, pada usia usia 12-24 bulan dan Bayi belum dapat berjalan atau mendorong mainan yang memiliki roda.

Bila Moms melihat kondisi seperti tersebut, disarankan untuk lebih banyak mengajak Si Kecil melakukan aktivitas fisik. Si Kecil juga mungkin butuh terapi fisik untuk memperbaiki keterlambatan perkembangan motorik kasar.

Masalah Perkembangan Motorik Halus

Masalah perkembangan motorik halus pada bayi berupa gangguan koordinasi otot-otot kecil. Misalnya, fungsi tangan, jari-jari tangan atau pergelangan tangan.

Adapun gejala yang muncul di antaranya, pada usia 4 bulan belum mampu menyatukan kedua tangan. Usia 5 bulan tapi belum mampu mengambil atau meraih sesuatu/benda di sekitarnya. Kemudian, berusia 8-9 bulan belum mampu memberikan sesuatu atau objek yang dipegangnya atau tak mampu mengambil dua buah benda sekaligus. Di usia 10-11 bulan belum mampu menjepit benda dengan ibu jari. Pada usia 14-15 bulan belum mampu memasukkan benda ke dalam suatu tempat. Telah berusia 18 bulan belum mampu menyusun dua kubus. Terakhir, di usia 24 bulan belum mampu menyusun empat kubus.= 

Bila hal demikian terjadi, Moms disarankan memberikan stimulasi dengan berbagai aktivitas fisik. Selain itu, tenaga medis akan menyarankan terapi fisik rutin untuk memperbaiki kemampuan motorik halus Si Kecil.

Masalah Perkembangan Kemampuan Bahasa dan Komunikasi

Masalah perkembangan motorik halus pada bayi berupa gangguan koordinasi otot-otot kecil. Misalnya, fungsi tangan, jari-jari tangan atau pergelangan tangan.

Adapun gejala yang muncul di antaranya, pada usia 4 bulan belum mampu menyatukan kedua tangan. Usia 5 bulan tapi belum mampu mengambil atau meraih sesuatu/benda di sekitarnya. Kemudian, berusia 8-9 bulan belum mampu memberikan sesuatu atau objek yang dipegangnya atau tak mampu mengambil dua buah benda sekaligus. Di usia 10-11 bulan belum mampu menjepit benda dengan ibu jari. Pada usia 14-15 bulan belum mampu memasukkan benda ke dalam suatu tempat. Telah berusia 18 bulan belum mampu menyusun dua kubus. Terakhir, di usia 24 bulan belum mampu menyusun empat kubus.

Baca Juga : Menu MPASI 6 Bulan untuk Tumbuh Kembang Bayi yang Optimal

Bila hal demikian terjadi, Moms disarankan memberikan stimulasi dengan berbagai aktivitas fisik. Selain itu, tenaga medis akan menyarankan terapi fisik rutin untuk memperbaiki kemampuan motorik halus Si Kecil.

Masalah Perkembangan Kemampuan Bahasa dan Komunikasi

National Institute of Deafness and Other Communication Disorders menyebutkan, usia tiga tahun pertama seorang anak adalah waktu terbaik dan paling efektif dalam menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi. 

Adapun beberapa penyebab masalah kemampuan bahasa dan komunikasi ini di antaranya: gangguan oral motorik, otot-otot yang mendukung kemampuan bicara, masalah dengan lidah atau langit-langit mulut atau lipatan di bawah lidah, gangguan pendengaran serta gangguan spektrum autisme.

Gejala yang muncul, seperti bayi belum bisa tertawa, memekik, mengucapkan ‘oh’ atau ‘ah’ serta tak menanggapi suara keras di usia 3-4 bulan. Berusia 5-7 bulan tapi bayi tak bisa menanggapi suara keras. Si Kecil belum bisa mengucapkan kata seperti ‘mama’ dan belum mampu meniru suara yang didengarnya di usia 8-12 bulan. Hingga berusia 12-24 bulan tapi Si Kecil belum bisa bicara satu kata pun atau mengucapkan ‘mama’ dengan jelas.

Bila itu yang terjadi, Moms harus segera berkonsultasi dengan dokter. Mungkin akan disarankan untuk menjalani terapi bicara untuk mengatasi masalah perkembangan bicara ini. Beberapa upaya yang bisa dilakukan misalnya lebih banyak mengajak bayi berbicara, membacakan cerita, atau bernyanyi.

Masalah Perkembangan Kemampuan Kognitif

Kemampuan kognitif berkaitan dengan otak, misalnya mengingat, mengumpulkan dan mengelola informasi, berpikir serta memecahkan persoalan. Adapun penyebab masalah perkembangan kognitif pada Si Kecil di antaranya: mengalami spektrum autisme, cacat genetik seperti autisme, dan sebagainya.

Apa saja gejalanya?

  • Usia 0-12 bulan

Bayi sulit mengenali wajah orang, tak mengenali dan merespons ketika mendengar suara yang familiar, tak menunjukkan rasa penasaran dengan sesuatu, serta kesulitan belajar mengenai rasa, suara, penglihatan dan penciuman.

  • Usia 12-24 bulan

Bayi tak menunjukkan kemampuan mengenali sesuatu atau seseorang yang dilihatnya dalam buku, tak menunjukkan keinginan untuk meniru perilaku orang lain yang dilihatnya.

Bila Moms melihat gejala-gejala tersebut, sebaiknya penanganan yang cepat perlu dilakukan agar keterlambatan perkembangan kognitif dapat dikejar kembali. Karena itu, Moms perlu segera berkonsultasi dengan dokter atau ahli untuk dilakukan pemeriksaan pada Si Kecil. Salah satu yang bisa dilakukan adalah melakukan terapi perilaku atau terapi bermain.

Masalah Perkembangan Perkembangan Emosional

Yang dimaksud kemampuan emosional adalah keterampilan untuk mengekspresikan sekaligus mengendalikan emosi diri serta orang lain. Pada Si kecil, salah satu perkembangan emosional yang bisa dikenali misalnya ketika ia tampak tersenyum atau merespons ketika diajak bicara. 

Nah, Moms perlu tahu bahwa masalah perkembangan emosional bayi dapat membuatnya sulit untuk mengekspresikan dan mengendalikan emosi dirinya serta orang lain. Apa saja penyebabnya?  Di antaranya adalah adanya keterlambatan kognitif, masalah pola pengasuhan atau Si Kecil mengalami spectrum autism sehingga ia kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi.

Baca Juga : Pilihan MPASI Bayi Umur 6 – 12 Bulan

Berikut ini beberapa gejala yang muncul bila anak mengalami gangguan perkembangan emosional, Si Kecil berusia 3-4 bulan tapi belum bisa tersenyum sendiri atau pada orang lain dan belum bisa mengenal wajah orang di sekitarnya. Telah berusia 5-7 bulan tetapi bayi tidak menunjukkan rasa bahagia ketika dikelilingi oleh orang lain, tak menunjukkan kasih sayang pada orangtua, tak senang dipeluk, sulit diajak berkomunikasi dan tak antusias saat diajak bermain. Perhatikan juga jika Si Kecil telah berusia 8-12 bulan tapi sulit diajak bicara, tersenyum atau menunjukkan ekspresi wajahnya, tak bisa melambaikan tangan. Dan, berusia 12-24 bulan tapi Si Kecil tak mampu menggunakan sendok dan garpu ketika makan, ia juga tak bisa menirukan kegiatan orang lain yang dilihatnya.

Untuk menanggapi masalah perkembangan emosional pada anak, dokter akan melakukan diagnosis terlebih dulu. Upaya yang bisa dilakukan di antaranya terapi khusus. Moms juga akan disarankan untuk sering mengajak Si Kecil bermain sebagai upaya terapi. Selain itu juga, bermain atau melakukan aktivitas bersama dengan anak dapat membangun serta memperkuat bonding dengan orangtua.  Diharapkan Si Kecil dapat mengejar ketertinggalan dalam perkembangan emosionalnya.