8 Kebiasaan Tradisional Unik Seputar Bayi

Merries Insight
01 Januari 2016
Umum
Share
8 Kebiasaan Tradisional Unik Seputar Bayi

Tradisi adalah sesuatu yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Selain untuk mempertahankan nilai-nilai luhur masing-masing daerah, tradisi biasanya dijalankan dengan harapan dan maksud tertentu. Karena ini pula kedelapan tradisi ini dilakukan, Moms.

Brokohan (Jawa)

Brokohan adalah acara yang dilakukan begitu si kecil lahir. Jika si kecil lahir di pagi hari maka tradisi ini dilakukan di sore atau malam harinya dan jika si kecil lahir di malam hari maka brokohan dilakukan keesokan harinya. Upacara ini dilangsungkan dengan tujuan meminta barokah (berkah) dan keselamatan bagi si kecil. Upacara ini dimulai dengan penanaman ari-ari dan penyediaan sesaji brokohan yang dibagikan kepada tetangga. Brokohan ini berupa telur ayam mentah, gula jawa setengah tangkep, kelapa setengah buah, dawet dan kembang brokohan yaitu mawar, melati dan kantil.

Peucicap (Nangroe Aceh Darussalam)

Tradisi masyarakat Aceh ini bertujuan untuk mendoakan si kecil agar dapat tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti kepada kedua orangtua, agama, nusa serta bangsa. Peucicap dilakukan pada hari ketujuh setelah si kecil lahir dengan mencicipkan madu lebah, kuning telur, dan air zam-zam ke lidah bayi disertai doa.

Peutron Aneuk (Nangroe Aceh Darussalam)

Tradisi ini secara general berarti membawa si kecil yang biasanya digendong untuk turun ke tanah dan mengenal lingkungan sekitarnya. Biasanya, peutron aneun dilakukan ketika si kecil sudah berumur 44 hari dimana seseorang terpandang yang dipilih orangtua menurunkannya ke halaman. Harapannya, si kecil nantinya bisa mengikuti jejak orang tersebut dan tumbuh menjadi anak yang berbakti serta berguna dan berbakti baik bagi orangtua maupun agama, nusa serta bangsa.

Tedak Sinten (Jawa)

Upacara adat ini memiliki kemiripan dengan peutron aneuk dari Nangroe Aceh Darussalam, Moms. Secara general, tedak sinten dimaknai sebagai upacara turun tanah. Tradisi ini dilakukan ketika si kecil sudah menginjak usia tujuh atau delapan bulan sebagai bentuk penghormatan kepada bumi yang akan menjadi tempat si kecil belajar dengan harapan si kecil nantinya bisa tumbuh menjadi manusia yang mandiri.

Mappattengeng (Sulawesi)

Upacara ini merupakan bagian dari tradisi daur hidup masyarakat Suku Bugis, Moms. Mappattengeng biasa dilakukan untuk mengajari si kecil yang mulai berjalan dengan tongkat bambu yang diisi dengan ketan yang sudah dibakar atau lebih dikenal dengan bahasa setempat sebagai pewong.

Martutu Aek (Sumatera Utara)

Dalam upacara yang dilaksanakan oleh Suku Batak ini, si kecil dibaringkan di atas sehelai kain ulos dalam keadaan telanjang dan dimandikan pagi-pagi sekali ketika matahari terbit di mata air terdekat oleh sibaso. Melalui ritual ini, diharapkan si kecil bisa disucikan dan dijauhkan dari kuasa-kuasa jahat.

Nahunan (Kalimantan)

Upacara ini kerap dilakukan oleh kalangan Suku Dayak Ngaju sebagai prosesi pemberian nama kepada si kecil yang sudah menginjak satu atau dua tahun usianya di dunia, Moms. Ritual ini memiliki makna ucapan rasa syukur dan terimakasih kepada bidan atau dukun kampung yang sudah membantu proses kelahiran, sanjungan atas kelahiran bayi serta agar bayi dikenal oleh masyarakat dalam kesehariannya.

Jatakarma samskara (Bali)

Upacara yang dilakukan oleh masyarakat Bali ini biasanya dilaksanakan waktu si kecil baru dilahirkan dan sudah mendapatkan perawatan pertama, Moms. Ritual yang dilaksanakan oleh salah seorang anggota keluarga tertua atau yang dituakan ini bertujuan sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si kecil di dunia. Si kecil yang baru lahir biasanya akan diupacarai dengan tujuan ruh yang ada padanya mendapatkan keselamatan. Dilanjutkan dengan memasukkan ari-ari yang telah dibersihkan ke dalam kendil lalu ditutup. Setelah kendil dibungkus dengan kain putih dan diberi bunga, kendil tersebut akan ditanam di halaman rumah, tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah jika anak laki-laki, dan bagian kiri untuk anak perempuan.

Nah, kira-kira upacara tradisional dari daerah mana yang sampai saat ini masih Moms lakukan? Atau daerah asal Moms belum tercantum di sini? Bisa langsung sharing dengan kami!