Kapan Usia Terbaik Melepas Si Kecil dari Gendongan?

Merries Insight
16 Juli 2019
Umum
Share
Kapan Usia Terbaik Melepas Si Kecil dari Gendongan?

Artikel ini berisi tentang :

  1. Benarkah terus menggendong Si Kecil bikin bau tangan?
  2. Kapan Si Kecil Harus Berhenti Digendong?
  3. Bagaimana jika Si Kecil ingin selalu digendong?
  4. Cara Mengenalkan Si Kecil dengan Orang Baru

Di awal kehidupannya, Si Kecil sangat bergantung kepada Moms hingga dia pun selalu tidak lepas dari gendongan. Tapi yang jadi masalah, banyak orang yang menyarankan agar Moms tidak terlalu banyak menggendong Si Kecil karena khawatir akan bau tangan.

Benarkah terus menggendong Si Kecil bikin bau tangan?

Istilah bau tangan disematkan kepada Si Kecil yang tidak mau lepas dari gendongan Moms, bahkan saat tidur saja Moms harus selalu dekat dengannya. Dia begitu sensitif, dan seolah tahu apakah Moms sedang berada dekat dengannya, atau sedang kalau berada jauh darinya.

Perlu dipahami, dalam buku yang berjudul Anti Panik Mengasuh Bayi 0-3 Tahun, karya tim Tiga Generasi, sering menggendong Si Kecil tidak akan membuatnya bau tangan. Justru sebaliknya, sering menggendong Si Kecil memiliki banyak dampak baik untuk Si Kecil, diantaranya :

  1. Memperkuat hubungan antara Moms dan Si Kecil
  2. Membuat Si Kecil merasa dirinya berharga dan diperhatikan
  3. Menenangkan Si Kecil, sehingga dia bisa lebih nyenyak saat tidur
  4. Si Kecil terhindar dari sindrom kepala peyang, atau bentuk kepala tidak beraturan.

Selain itu, memeluk dan selalu berdekatan dengan Si Kecil akan membuat Moms merasa lebih tenang, mampu menghilangkan stres dan lelah fisik, serta membuat Moms merasa lebih percaya diri.

Kapan Si Kecil Harus Berhenti Digendong?

Meskipun memiliki banyak manfaat, tapi tidak selamanya Moms diizinkan untuk menggendong Si Kecil. Bagaimanapun juga, Si Kecil harus dilepaskan dari gendongan. Ada beberapa alasan kenapa Si Kecil harus mulai banyak dilepaskan dari gendongan, diantaranya :

  1. Sebagai pelajaran awal kemandirian
  2. Untuk melatih kemampuan motorik kasar Si Kecil, terutama kemampuan berjalan, dan lainnya.
  3. Memenuhi rasa ingin tahu Si Kecil. Misalnya, saat dilepaskan dari gendongan Si Kecil akan menemukan banyak hal baru, seperti rasa tekstur tanah, menyentuh dedaunan, dan lainnya.
  4. Memudahkan Moms dalam beraktivitas. Misal, Moms bisa tetap mengasuh dan mengawasi Si Kecil sambil masak, membereskan rumah dan lainnya.

Mengenai kapan harus berhenti digendong, dilansir Close Enough to Kiss, tidak ada batasan khusus kapan Moms harus mulai berhenti menggendong. Moms bisa berhenti menggendong sejak usia 1 tahun, 2 tahun, bahkan masih banyak orangtua yang menggendong anaknya padahal sudah berusia 4 tahun atau lebih.

Meskipun begitu, Moms disarankan untuk mulai mengurangi frekuensi menggendong Si Kecil sejak dia belajar berjalan atau saat berusia 14-15 bulan. (oleh Heather S. Baker, terapis fisik dari Swedish Covenant Hospital, Chicago, Amerika)

Menurut Heather, di usia ini Si Kecil harus lebih banyak belajar berjalan. Frekuensi dan durasi menggendong ini harus mulai dikurangi, terutama saat Si Kecil sudah mulai mahir berjalan, dan disarankan mulai berhenti menggendong Si Kecil saat usianya mencapai 3 tahun.

Di usia ini, justru Si Kecil disarankan untuk lebih banyak melakukan aktivitas fisik sendiri, melakukan pengamatan, dan bermain dengan teman-temannya. Bahkan di usia ini, Moms bisa melepaskan Si Kecil di pusat perbelanjaan. Tentu saja dengan catatan, dia harus terus diawasi dan dipastikan keamanannya.

Bagaimana jika Si Kecil ingin selalu digendong?

Di masyarakat kita, Si Kecil yang selalu menangis saat dilepaskan dari gendongan disebut sebagai anak bau tangan. Dalam istilah psikologi, kondisi ini disebut sebagai separation anxiety, atau kondisi kecemasan berlebih saat terjadi perpisahan.

Hal ini tergolong sangat wajar Moms, mengingat Si Kecil masih belum terbiasa dengan lingkungan baru. Menariknya, gangguan separation anxiety ini justru lebih banyak terjadi kepada Si Kecil yang jarang dikeluarkan dan belum banyak mengenal orang lain selain orang tuanya.

Karena belum mengenal orang-orang di lingkungannya, maka wajar jika akhirnya dia akan merasa tidak aman saat Moms jauh bersamanya. Biasanya, ketakutan rasa takut Si Kecil ditunjukan dengan respon berupa tangisan. (oleh Ratih Zulhaqqi, M. Psi, psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre).

Cara Mengenalkan Si Kecil dengan Orang Baru

Meskipun tergolong normal, bukan berarti Moms boleh membiarkan hal ini. Dilansir dalam parenting.com, cara paling sederhana untuk mengatasi Si Kecil yang mengalami separation anxiety adalah dengan meyakinkan Si Kecil jika lingkungannya aman.

Caranya, pertama Moms ajak Si Kecil mengenal lingkungannya dan biarkan dia mengenal lebih banyak orang, terutama sanak saudaranya. Biarkan dulu hingga dia nyaman dan merasa aman, setelah itu baru Moms bisa melepaskan Si Kecil secara perlahan, dimulai dari dipangku oleh orang yang dia kenal.

Satu catatan penting yang harus diperhatikan, jangan pernah memaksa Si Kecil untuk mau dekat atau dipangku orang lain kalau dia menolak. Jika terjadi reaksi penolakan, seperti menangis, maka segera pangku kembali Si Kecil dan mulai dekatkan lagi Si Kecil dengan halus dan perlahan.