Jangan Larang Si Kecil Menangis Saat Sedih. Ini Alasannya!

Merries Insight
06 Maret 2019
Umum
Share
Jangan Larang Si Kecil Menangis Saat Sedih. Ini Alasannya!

Artikel ini berisi tentang:

  1. Melarang Menangis Bisa Picu Masalah Mental
  2. Tantrum Bisa Jadi Pelampiasan Si Kecil
  3. Menangis Bisa Membuat Si Kecil Mudah Sakit
  4. Si Kecil Malah Jadi Lebih Tertutup

Meskipun dunia anak dikenal sebagai dunia bermain dan penuh keceriaan, faktanya ada banyak hal yang membuat Si Kecil bersedih, hingga membuatnya menangis. Jangan khawatir Moms, ini merupakan reaksi yang wajar terjadi. Yang tidak wajar justru saat Moms melarang Si Kecil menangis saat dirinya bersedih.

Berikut merupakan alasan kenapa Moms dilarang keras untuk melarang Si Kecil menangis saat dia ditimpa kesedihan, seperti saat binatang peliharaannya meninggal, mainannya hilang dan lainnya.

Melarang Menangis Bisa Picu Masalah Mental

Saat Si Kecil dilarang menangis, itu berarti Moms sudah merampas hak dia untuk mengekspresikan kesedihannya. Jelas ini sangat berbahaya karena bisa memicu masalah mental di kemudian hari. (oleh Lena Aburdene Derhally, terapis khusus masalah mental dan kecemasan di Amerika)

Dari sekian banyak pasien yang ditanganinya, Lena menceritakan hampir semua orang yang di masa kecilnya dilarang menangis saat bersedih, memiliki masalah pengendalian emosi saat dewasa. Mereka pun umumnya jadi mudah marah, mudah cemas dan depresi.

Selain itu, kebiasan melarang Si Kecil menangis akan membuatnnya merasa sangat tertekan saat dewasa nanti. Kondisi inilah yang membuat mereka berisiko besar terlibat dalam kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang, karena ketidakmampuan dalam mengekspresikan emosinya.

Tantrum Bisa Jadi Pelampiasan Si Kecil

Si Kecil perlu tumbuh dengan kemampuan mengontrol emosi. Mereka pun harus memiliki empati yang baik terhadap orang lain, dan mampu mengungkapkan emosinya dengan baik. Kesempatan ini bisa didapat dari menangis. (oleh Ine Indriani, M.Psi, psikolog anak dan remaja dari di Jakarta Eye Center Kedoya)

Menurut Ine, memberikan kesempatan untuk menangis kepada Si Kecil, akan membuat dia merasa diterima dan dipahami orang lain. Selain itu, menangis pun akan membuat Si Kecil memahami perasannya sendiri, dan mampu menumpahkan segala keluh kesahnya.

Kondisi berbeda ditunjukan saat Si Kecil dilarang untuk menangis. Si Kecil akan merasa bingung untuk meluapkan kesedihannya, hingga akhirnya dia memilih jalan mudah, yakni menyembunyikan kesedihannya dengan cara menahan tangisan.

Ini bisa sangat berbahaya Moms, karena bisa membuat Si Kecil depresi. Saat sudah tidak terkendali, akumulasi perasaan yang tertahan ini akan membuat Si Kecil memilih tantrum dan bersikap agresif kepada teman atau adiknya sebagai pelampiasan.

Menangis Bisa Membuat Si Kecil Mudah Sakit

Penelitian yang diterbitkan dalam American Psychologikal Association, menyebut jika menangis efektif untuk membantu membersihkan tubuh dari kelebihan bahan kimia, racun dan stres. Imbasnya, setelah menangis perasaan jadi lebih tenang dan tubuh merasa jadi lebih segar.

Selain itu, seperti kita ketahui meminta Si Kecil untuk tidak menangis bisa menyebabkan Si Kecil stres. Padahal, penelitian membuktikan jika stres jangka panjang bisa menyebabkan tubuh mengeluarkan hormon glukokortikoid, yang merupakan hormon yang berpengaruh kepada timus.

Timus sendiri merupakan tempat limfosit (salah satu sel imun) diproduksi. Dengan kata lain, stres bisa menyebabkan kinerja sistem kekebalan tubuh terganggu. Imbasnya, Si Kecil yang merasa tertekan dan stres akan membuatnya jadi lebih mudah sakit.

Dalam penelitian lainnya, menangis akan membuat Si Kecil lebih ceria. Hal ini disebabkan karena Si Kecil diberi kebebasan untuk melepaskan seluruh emosi negatifnya lewat tangisan, sehingga perasaannya akan jadi lebih lega, dan dia pun akan tumbuh jadi anak yang ceria.

Si Kecil Malah Jadi Lebih Tertutup

Saat Moms melarang untuk menangis, itu artinya kebebasan Si Kecil dalam mengekspresikan perasanya akan tertahan. Dia akan terbiasa memendam semua perasaannya, dan lebih memilih untuk menyimpannya karena takut dianggap anak yang cengeng.

Dalam jangka panjang, kondisi ini malah akan membuatnya sulit untuk mempercayai orang lain, dan berpotensi menjadi pribadi yang sangat tertutup.

Akibatnya, Si Kecil lebih memilih diam saat diperlakukan tidak pantas oleh orang lain, Si Kecil akan memilih mencari cara bersenang-senang sendiri tanpa tahu batasan apakah yang dilakukannya termasuk perbuatan baik atau buruk dan setumpuk dampak negatif lainnya.

Sikap Si Kecil yang tertutup pun akan meningkatkan peluang jadi anak broken home saat dewasa nanti, dan berpotensi jadi anak yang pembangkang.

Bukankah itu sangat buruk? Makanya Moms, mulai sekarang stop meminta Si Kecil untuk tidak menangis dengan alasan “jangan jadi anak cengeng!”. Berikan dia kebebasan untuk meluapkan kesedihannya, dan tunjukan dukungan Moms dengan selalu menghibur dan memeluknya.