Mitos dan Fakta tentang Kemampuan Bilingual Si Kecil

Mitos dan Fakta tentang Kemampuan Bilingual Si Kecil

Artikel ini berisi tentang :

  1. Bilingual Sebabkan Speech Delay
  2. Bicara Dua Bahasa Sebabkan Gangguan Bicara
  3. Anak Bilingual Memiliki Masalah Akademik
  4. Berbicara Dalam Bahasa Ibu Lebih Baik

Belakangan ini banyak orangtua yang membesarkan anaknya dengan menggunakan 2 bahasa atau lebih, ada yang mengkombinasikan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah masing-masing, ada pula yang mengkombinasikannya dengan bahasa asing, seperti bahasa Inggris.

Meskipun begitu, membesarkan anak dengan bilingual ini penuh pro dan kontra, bahkan ada beberapa mitos populer terkait hal ini.

Bilingual Sebabkan Speech Delay

Banyak yang beranggapan jika berbicara dan mengajarkan anak dua bahasa atau lebih, akan membuatnya bingung hingga berisiko mengalami speech delay atau masalah terlambat bicara. Benarkah?

Faktanya, tidak ada yang salah dalam mengajarkan bahasa asing pada anak, tapi yang jadi kesalahan justru mencampurkan bahasa-bahasa tersebut. (oleh Anna Surti Ariani, S.PSi., M.Si., Psi, psikolog Anak dan Keluarga dari Medicare Clinic).

Misalnya, terkadang Moms bilang Ayo saat mengajak Si Kecil, terkadang lagi mengajak dengan menggunakan bahasa daerah, atau bahasa asing. Kondisi ini akan membuat Si Kecil bingung hingga akhirnya berisiko mengalami terlambat bicara.

Yang paling tepat, Moms boleh mengajarkan dua bahasa atau lebih, tapi hanya sebagai translate saja. Misalnya, Nak ini buku, dalam bahasa Inggris diucapkan book. Dengan demikian, kosakata yang dimiliki Si Kecil tidak hanya bahasa Inggris, tapi juga bisa bahasa Indonesia, atau bahasa lainnya.

Bicara Dua Bahasa Sebabkan Gangguan Bicara

Selain masalah terlambat bicara atau speech delay, konon katanya bicara dalam dua bahasa pun bisa membuat Si Kecil mengalami gangguan bicara.

Faktanya, jika Moms sudah mengajarkan program 2 bahasa sejak dini dengan baik, tentu saja ini hanya mitos belaka. Justru sebaliknya, membiasakan berbicara dalam banyak bahasa (tidak dicampur), akan membuat kemampuan bilingual Si Kecil makin meningkat.

Yang jadi masalah adalah penempatannya. Misalnya, saat Si Kecil bicara menggunakan bahasa Inggris kepada teman-temannya yang tidak bisa bahasa Inggris, tentu saja mereka tidak akan memahaminya, sehingga masalah ini bisa memicu kesalahpahaman.

Jadi bukan masalah gangguan bicara Moms, ini hanya masalah kesalah-fahaman saja karena Si Kecil berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti teman-temannya.

Anak Bilingual Memiliki Masalah Akademik

Anak dengan kemampuan bilingual dianggap kurang mampu bersaing di sekolah karena dia harus menanggung lebih banyak informasi terkait bahasa yang dikuasainya.

Faktanya, anak dengan kemampuan bilingual justru memiliki memori yang lebih baik ketimbang anak-anak lainnya. Kemampuan ini pun bisa jadi modal mereka untuk meningkatkan kapasitas memori demi menyerap sebanyak mungkin informasi yang diberikan gurunya.

Selain itu, di Indonesia sendiri sudah banyak sekolah yang memfasilitasi kemampuan bilingual Si Kecil, bahkan di sekolah tertentu sampai ada hari-hari khusus untuk bicara bahasa tertentu, dari mulai bahasa Indonesia, bahasa daerah hingga bahasa asing.

Selain itu, Si Kecil dengan kemampuan bilingual ini pun dianggap sebagai pemecahan masalah yang superior, mereka memiliki keterampilan multitasking, dan memiliki peningkatan fleksibilitas kognitif yang lebih baik dari anak-anak lainnya.

Berbicara Dalam Bahasa Ibu Lebih Baik

Salah satu teori penentang anak bicara dalam dua bahasa atau lebih adalah, mereka menganggap bahasa ibu atau bahasa yang bisa digunakan sehari-hari, merupakan bahasa yang terbaik.

Faktanya, bahasa Ibu memang yang terbaik dan mampu mendukung kemampuan komunikasi dan akademis Si Kecil, tapi bukan berarti bahasa lain boleh ditinggalkan. (oleh Rita Rahmawati, Amd. TW, S.Pd., terapis wicara dari RS Harapan Kita)

Bagaimana caranya agar Si Kecil bisa belajar bahasa asing, bahasa daerah dan bahasa Indonesia secara bersamaan? Mengenai hal ini, Rita menyarankan agar Moms menggunakan teknik, “apapun kata asing yang akan diajarkan kepada Si Kecil, dia harus tahu artinya dengan bentuk visualisasi”.

Misalnya saat mengajarkan tomat, Moms harus memberi informasi kepada Si Kecil jika tomat dalam bahasa Inggris disebut tomato. Kemudian ajarkan bagaimana cara melafalkannya, memperkenalkan bentuknya dalam bentuk gambar, atau miniatur, kemudian tunjukkan langsung bentuk aslinya.