Apakah Si Kecil Butuh Play Therapy? Kita Cek Yuk Cirinya

Merries Insight
18 Juli 2019
Umum
Share
Apakah Si Kecil Butuh Play Therapy? Kita Cek Yuk Cirinya

Artikel ini berisi tentang :

  1. Apa itu Play Therapy?
  2. Siapa Yang Butuh Play Therapy?
  3. Manfaat Play Therapy Untuk Tumbuh Kembang Si Kecil
  4. Tahapan Metode Play Therapy

Anak-anak tumbuh dengan bermain. Selain belajar bersosialisasi, bermain baik untuk memuaskan rasa ingin tahu Si Kecil, belajar memaksimalkan motorik halus dan kasar, belajar mengontrol emosi dan mengenal apa yang diinginkannya.

Apa itu Play Therapy?

Terapi Bermain atau Play Therapy merupakan metode konseling dengan menggunakan metode bermain untuk berkomunikasi dan mendorong tumbuh kembang Si Kecil, dengan menggunakan disiplin ilmu yang berlandaskan teori psikologi.

Salah satu pionir play therapy adalah psikolog Virginia Axline, yang mengembangkan 8 Prinsip Dasar play therapy Non-Directive sejak tahun 1940. Menurut penelitian yang dilakukan Play Therapy United Kingdom, 71% anak yang mendapat play therapy, berhasil menunjukkan kemajuan yang positif.

Berbeda dengan metode konseling biasa yang lebih privat dan eksklusif (terkadang melibatkan obat-obatan), dalam play therapy Si Kecil akan diajak untuk bermain dalam lingkungan yang aman dan nyaman. Mereka pun bebas bereksplorasi, meskipun tetap ada batasan khusus, sehingga proses tumbuh kembangnya bisa berjalan lebih maksimal.

Yang paling menarik, Si Kecil akan mendapat waktu istimewa untuk belajar, bersosialisasi, dan bermain sesuai dengan dunia mereka, tanpa khawatir penilaian dari orang lain, cibiran, bullying dan lainnya.

Siapa Yang Butuh Play Therapy?

Selama ini banyak yang beranggapan jika Play Therapy hanya untuk anak-anak berkebutuhan khusus saja. Hal inilah yang mungkin menjadi salah satu hambatan Play Therapy belum berkembang di Indonesia. Tidak sedikit orangtua di Indonesia yang enggan buah hatinya menjalani Play Therapy karena merasa anaknya baik-baik saja dan tidak berkebutuhan khusus.

Padahal, selain anak-anak berkebutuhan khusus, anak-anak normal pun membutuhkannya untuk memaksimalkan tumbuh kembangnya. (oleh dr Ira Sjaflan, Certified Practitioner Therapeutic Play Skills dari Sari Asih Ciputat Hospital)

Selain itu, berikut merupakan beberapa tanda jika Si Kecil butuh Play Therapy.

  1. Anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tua, terutama ditelantarkan setelah usia 3 tahun.
  2. Anak yang orangtuanya bercerai dan mereka hidup terpisah, baik di panti asuhan atau dititip ke sanak saudara.
  3. Si Kecil memiliki gangguan kronis, seperti ADHD, gangguan kecemasan, stres atau depresi, dan memiliki penyakit berbahaya, seperti kanker dan lainnya
  4. Si Kecil terlahir cacat, terkena luka bakar lebih dari 50%, penyintas kecelakaan, memiliki cacat bawaan lahir, seperti tuli, buta, atau bisu, dan hal lainnya yang membuat mereka minder.
  5. Mengalami gangguan belajar seperti disleksia, memiliki prestasi akademis yang buruk, mengalami trauma akibat kecelakaan atau bencana, kekerasan dalam rumah tangga, korban kejahatan seksual dan lainnya.
  6. Si Kecil pun yang memiliki fobia, menarik diri dari dunia luar dan yang cenderung bersikap agresif, sulit mengendalikan emosi dan sulit diatur, termasuk butuh dengan terapi ini.

Rata-rata, play terapi bisa mulai diikuti sejak Si Kecil berusia 3 tahun. Konsultasikan dengan dokter untuk memastikan apakah Si Kecil benar-benar butuh play terapi atau bimbingan konseling biasa.

Manfaat Play Therapy Untuk Tumbuh Kembang Si Kecil

Karena lebih cenderung kepada terapi belajar sambil bermain, penelitian yang dilakukan Neurobiological Development and Psychological Trauma, play therapy bisa digunakan sebagai trauma healing untuk anak-anak yang mengalami kejahatan seksual, terdampak bencana dan lainnya.

Secara umum, play therapy memiliki cukup banyak manfaat, diantaranya :

  1. Mengembangkan rasa percaya diri Si Kecil.
  2. Melatih Si Kecil lebih bertanggung jawab atas perilakunya
  3. Menumbuhkan rasa empati, saling menghormati, dan menghargai orang lain.
  4. Belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat dan tepat.
  5. Melatih kemampuan mengendalikan diri dan meningkatkan keterampilan sosial.
  6. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dengan cara yang positif.

Seperti namanya, play therapy dilakukan dengan cara bermain dengan memainkan permainan menarik dan populer di kalangan anak-anak, seperti bermain boneka, menggambar, mewarnai, menyusun balok, bermain alat musik, dan lainnya.

Tahapan Metode Play Therapy

Dalam memberikan play therapy, guru atau terapis tidak bisa melakukannya secara sembarangan. Sebelumnya, terapis akan mengkaji lebih dalam tentang masalah apa yang dialami Si Kecil, derajat masalah yang dialami, dan faktor lainnya.

Maka dari itu, orangtua sebaiknya memberikan informasi yang lengkap terkait kondisi Si Kecil. Biasanya, semua itu akan diungkapkan dalam sesi wawancara. Setelah informasi yang dibutuhkan berhasil dikumpulkan, play therapy bisa dilakukan dengan cara :

  1. Terapis akan membebaskan Si Kecil memilih alat permainan yang ingin dimainkan. Kondisi ini disebut child centered atau client centered.
  2. Ketika Si Kecil merasa diterima, biasanya dia akan mampu membebaskan dirinya dari segala tekanan, dan lebih leluasa untuk mengeksplor diri dan melepaskan ketegangannya.
  3. Fase selanjutnya, Si Kecil akan diminta untuk menemukan masalah ditanya bagaimana cara dia menyelesaikan masalah dalam permainannya.

Setelah proses tersebut, Si Kecil akan merasa kembali percaya diri dan yakin dengan kemampuannya. Terapis pun biasanya akan memberikan konseling kepada orang tuanya agar apa yang didapat di tempat terapi, bisa dilanjutkan di rumah.