Pendarahan di Trimester Pertama Kehamilan. Berbahayakah?

Merries Insight
06 Februari 2018
Kesehatan
Share
Pendarahan di Trimester Pertama Kehamilan. Berbahayakah?

Artikel ini berisi tentang :

  1. Normalkah Pendarahan di Trimester Pertama?
  2. Penyebab Pendarahan Lainnya
  3. Pendarahan Yang Wajib Diwaspadai
  4. Apa Yang Harus Dilakukan?

Saat hamil dan mengalami pendarahan, banyak wanita yang akan merasa takut, dan bahkan langsung panik. Terlebih jika pendarahan ini terjadi di trimester pertama masa kehamilan, dimana masa ini dikenal sebagai masa rawan selama masa kehamilan.

Normalkah Pendarahan di Trimester Pertama?

Pendarahan di timester pertama merupakan hal yang normal, dengan catatan jumlahnya sedikit dan tidak menimbulkan rasa sakit di area perut (oleh Joshua Weiss, M.D., peneliti dari Columbia Presbyterian Hospital, di New York).

Hal ini bahkan dibuktikan lewat sebuah penelitian yang dilakukan Society of Maternal-Fetal Medicine, yang meneliti lebih dari 16.000 wanita, menyebut jika risiko komplikasi pada Moms yang mengalami Pendarahan di trimester pertama hanya sebesar kurang dari 5 persen.

Pendarahan ini sendiri disebabkan karena implantasi, yakni ketika sel telur yang dibuahi menempel di lapisan rahim. Biasanya Pendarahan ini terjadi selama 2-5 hari.

Selain itu, pendarahan ini disebabkan oleh polip serviks, yang merupakan pertumbuhan daging yang tidak berbahaya di area mulut rahim akibat level estrogen yang meningkat, bertambahnya jumlah pembuluh darah di jaringan rahim dan lainnya.

Penyebab Pendarahan Lainnya

Selain itu, American Pregnancy Association, memberikan panduan beberapa kemungkinan penyebab Pendarahan yang normal pada trimester pertama masa kehamilan, yakni :

  1. Berhubungan seks selama masa kehamilan.
  2. Mom menjalani pemeriksaan internal yang dilakukan oleh bidan ataupun dokter kandungan.
  3. Aktivitas hormonal selama masa kehamilan sebagai cara adaptasi tubuh dengan kondisi kehamilan.
  4. Pendarahan implantasi, yang biasanya terjadi di usia 4 Minggu masa kehamilan.
  5. Terjadi infeksi, tapi tidak berhubungan dengan kehamilan. Misalnya, ambeien atau infeksi saluran kencing.

Walaupun pendarahan tersebut tidak berbahaya dan tidak menyebabkan rasa sakit, Moms tetap wajib memeriksakan diri ke dokter sebagai langkah antisipasi, sekaligus untuk memastikan usia kehamilan.

Pendarahan Yang Wajib Diwaspadai

Selain pendarahan yang tidak berbahaya, bahkan bisa menjadi penanda kehamilan, ada beberapa pendarahan lainnya yang wajib Moms waspadai, diantaranya :

  1. Pendarahan subkorionik, atau pendarahan yang terjadi di sekitar plasenta. Pendarahan jenis ini berisiko menyebabkan komplikasi, seperti persalinan prematur, berisiko terlepasnya plasenta dari dinding rahim hingga menyebabkan keguguran (oleh Dr. Alyssa Stephenson).
  2. Chemical pregnancy, yang merupakan kegagalan sel telur untuk bertahan karena gangguan kromosom, masalah genetik, dan lainnya. Kondisi ini menyebabkan keguguran, yang ditandai dengan keram perut dan perut yang terasa sangat sakit.
  3. Kehamilan ektopik, atau kehamilan yang terjadi di luar kandungan. Kondisi ini terjadi saat embrio yang sudah dibuah tidak menempel di rahim, melainkan di saluran tuba falopi atau tempat lainnya. Embrio yang terus dibiarkan tumbuh bisa menyebabkan Pendarahan dan merusak tuba falopi (oleh dr. Aryando Pradana, SpOG dari RS Bunda Menteng, Jakarta).
  4. Kehamilan molar, atau yang disebut hamil anggur. Kondisi ini terjadi akibat ketidakseimbangan kromosom yang menyebabkan janin dan plasenta tidak terbentuk dengan sempurna.

Kehamilan molar sendiri baru bisa terdeteksi lewat tes darah di trimester pertama atau lewat pemeriksaan USG. Bila sudah dipastikan, biasanya dokter akan segera melakukan beberapa tindakan, bisa berupa kuret atau histerektomi.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Seperti disebutkan diatas, walaupun terasa baik-baik saja (pendarahan normal), Moms wajib untuk memeriksakan diri ke bidan atau dokter kandungan terdekat. Menurut WHO, selama kehamilan Moms wajib berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter, setidaknya 4 kali.

Moms disarankan untuk memeriksakan kehamilan sebanyak 12 kali, apalagi jika Moms termasuk dalam kategori kehamilan berisiko, seperti hamil di usia 35 Tahun keatas, obesitas, berat badan kurang dan diabetes (oleh Dr. Ivan Sini, SpOG, dokter spesialis kebidanan dari RSIA Bunda).

Pemeriksaan ini dilakukan sebulan sekali hingga usia kehamilan 7 Bulan, per 2 Minggu pada usia kehamilan ke-28 hingga 32 Minggu, dan seminggu sekali dari usia kehamilan ke-32 Minggu hingga persalinan.