Dampak Jangka Panjang, Perceraian Bisa Sebabkan Si Kecil Sulit Menjalin Hubungan Sehat

Merries Insight
15 Juli 2019
Umum
Share
Dampak Jangka Panjang, Perceraian Bisa Sebabkan Si Kecil Sulit Menjalin Hubungan Sehat

Artikel ini berisi tentang :

  1. Si Kecil Tidak Merasa Utuh
  2. Sebabkan Si Kecil Sulit Menjalin Hubungan Sehat
  3. Cenderung Gagal Dalam Kehidupan Rumah Tangga
  4. Apa yang harus dilakukan jika perceraian harus terjadi?

Saat hubungan pernikahan sudah tidak sejalan lagi, perceraian terkadang jadi pilihan terkahir yang harus ditempuh. Tapi hati-hati Mom, tidak hanya dampak buruk terhadap Moms dan pasangan saja, dampak buruk perceraian pun bisa dirasakan Si Kecil.

Si Kecil Tidak Merasa Utuh

Pasca bercerai, biasanya hak asuh Si Kecil akan diberikan kepada salah satu pihak yang dianggap paling siap dan paling layak untuk membesarkannya. Tapi ingat Moms, ini bukan jaminan Si Kecil akan baik-baik saja dan hidup bahagia (seperti biasanya).

Dampak perceraian akan langsung dirasakan Si Kecil. Dalam jangka pendek, Si Kecil akan merasa tidak beruntung, merasa kehilangan sesosok seorang ayah, dan hidupnya merasa tidak utuh lagi. Kondisi ini jelas berbahaya, karena bisa menyebabkan Si Kecil mengalami stres dan depresi.

Ancaman lainnya, Si Kecil mungkin akan merasa sangat rendah diri pada teman-temannya, yang berujung kepada kehidupan sosialnya. Tidak hanya itu, kepercayaan dirinya pun akan menurun, dan menyebabkan Si Kecil sulit mendapatkan prestasi akademik yang membanggakan.

Sebabkan Si Kecil Sulit Menjalin Hubungan Sehat

Menurut American Psychological Association, Si Kecil yang dibesarkan oleh orangtua korban perceraian, akan cenderung mengalami banyak masalah dalam kehidupannya. Dalam jangka panjang, Si Kecil akan kesulitan untuk menjalin hubungan sehat.

Si Kecil yang jadi korban perceraian akan cenderung takut dan terlalu hati-hati saat menjalin hubungan, hingga akhirnya dia akan terjebak dalam perasaan was-was, takut saat akan membuka diri, dan sikap lainnya. Hal inilah yang akan membuat mereka sulit membangun hubungan yang sehat.

Bahkan dalam sebuah penelitian, Si Kecil yang jadi korban perceraian, akan cenderung menjadi pribadi yang posesif. Hal ini disebabkan karena mereka tidak ingin apa yang dialami orang tuanya, kembali terulang padanya. Padahal, sikap posesif inilah yang justru akan menyakitinya.

Cenderung Gagal Dalam Kehidupan Rumah Tangga

Bagaikan penyakit menular, penelitian yang dilakukan National Opinion Research Council, selama 20 tahun terhadap anak korban perceraian, menyimpulkan jika anak yang jadi korban perceraian, cenderung gagal dalam membina kehidupan rumah tanggga.

Bentuk kegagalan ini beragam, ada yang tidak pernah menemukan pasangan hingga akhirnya hidup menyendiri, hingga hubungan mereka kandas karena perceraian.

Penelitian tersebut didukung oleh hasil penelitian lainnya di Virginia Commonwealth University dan Lund University di Swedia, yang menyebut jika anak perempuan korban perceraian, 60 persen lebih tinggi berpeluang untuk bercerai saat dewasa nanti.

Angka yang sedikit rendah dialami kaum pria. Si Kecil yang jadi korban perceraian, 35 persen lebih tinggi akan bercerai saat dewasa nanti, ketimbang anak pria lainnya yang bukan korban perceraian.

Apa yang harus dilakukan jika perceraian harus terjadi?

Perceraian memang menyakitkan, tapi tidak semuanya hubungan layak dipertahankan. Misalnya, jika pasangan sering melakukan KDRT, atau tindakan tidak terpuji lainnya, perceraian bisa jadi jalan terbaik untuk kehidupan Moms dan Si Kecil.

Tapi jika perceraian harus dilakukan, ada beberapa hal yang harus Moms lakukan untuk memulihkan trauma perceraian, sekaligus mencegah dampak buruk dari perceraian tersebut, diantaranya :

  1. Jelaskan tentang perceraian, dan kenapa Moms harus memilihnya. Pastikan Moms menjelaskan ini dengan bahasa yang mudah dipahami.
  2. Yakinkan Si Kecil akan tetap mendapatkan kasih sayang, bahkan kali ini kasih sayangnya akan jauh lebih besar sehingga tidak ada alasan untuk bersedih.
  3. Berikan rasa nyaman kepada Si Kecil dengan cara mendukung apa yang ingin dia lakukan, (selama itu mampu dilakukan dan positif untuknya)
  4. Jangan marah saat Si Kecil mengaku kangen ayah, atau hal lainnya yang bisa mengungkit luka lama Moms. Peluk dia dan katakan kondisinya, dan minta agar dia mengerti tentang kondisi ini.
  5. Jika ada kesempatan, Moms bisa mempertemukan Si Kecil dengan ayahnya, setidaknya 2 hari dalam seminggu, atau sesuai dengan ketentuan yang berlaku dari pengadilan.

Perlu diingat, jika memang dibutuhkan Moms bisa melibatkan psikolog anak untuk mencegah Si Kecil dari ancaman trauma perceraian. Ingat, perceraian itu buruk dan Si Kecil bisa jadi korban. Jika hubungan masih mungkin dipertahankan, maka pertahankanlah!