Pola Asuh Appeasers Akan Membuat Si Kecil Seolah Terkurung. Benarkah?

Pola Asuh Appeasers Akan Membuat Si Kecil Seolah Terkurung. Benarkah?

Artikel ini berisi tentang :

  1. Seperti apa pola asuh appeasers?
  2. Keuntungan Pola Asuh Appeasers
  3. Kekurangan Pola Asuh Appeasers
  4. Apakah cocok diterapkan di Indonesia?

Ada banyak pola asuh yang bisa Moms pilih untuk membesarkan anak, salah satunya pola asuh permisif yang memberikan kebebasan penuh pada Si Kecil. Selain itu, ada juga pola asuh Appeasers yang sangat ketat dan melindungi Si Kecil secara penuh.

Seperti apa pola asuh appeasers?

Pola asuh Appeasers merupakan jenis teknik pengasuhan yang mengedepankan perlindungan secara penuh. Artinya, Moms akan menempatkan diri sebagai pendidik dan sumber pengetahuan utama Si Kecil, sekaligus pelindung Si Kecil dari berbagai pengaruh buruk dunia luar.

Ada beberapa ciri khas dari pola asuh appeasers, diantaranya :

  1. Moms melarang Si Kecil bermain dengan anak-anak di lingkungan karena takut mereka akan membawa banyak pengaruh buruk.
  2. Kalaupun boleh bermain, Si Kecil harus ditemani Moms atau anak-anak tetangga yang main ke rumah bersama Si Kecil.
  3. Si Kecil dilarang untuk main kotor-kotoran, hujan-hujanan, dan lainnya, dengan alasan khawatir Si Kecil sakit.
  4. Saat Si Kecil akan sekolah, Moms akan menyeleksi dengan ketat sekolah yang akan dipilih. Tapi jika tidak menemukan sekolah yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan, Moms akan lebih memilih homeschooling.

Intinya, pola asuh ini menerapkan pendidikan dan pengawasan yang sangat ketat demi memblokir seluruh pengaruh buruk dari luar.

Keuntungan Pola Asuh Appeasers

Karena sebagian besar waktu Si Kecil berada di rumah, dan bahkan selalu dalam pengawasan Moms, tentu saja Moms akan menjadi orang pertama yang menikmati seluruh progress dari tumbuh kembangnya. Bahkan mungkin Moms merupakan orang akan tahu kata pertama yang diucapkan Si Kecil.

Selain itu, ada beberapa keuntungan yang bisa Moms dapatkan saat menerapkan pola suh appeasers, diantaranya :

  1. Moms akan lebih mudah mengawasi, dan mengarahkan Si Kecil. Moms pun bisa membentuk karakter Si Kecil sesuai dengan keinginan, tanpa campur tangan dari lingkungan.
  2. Kesehatan Si Kecil akan terjamin karena kebersihan, makanan dan hal yang berhubungan dengan Si Kecil dipastikan sudah steril.
  3. Hubungan Moms dan Si Kecil akan lebih intim. Moms akan lebih memahami karakter dan apa yang diinginkan Si Kecil, begitu pun sebaliknya.
  4. Karena pemilihan sekolah dengan standar yang sangat tinggi, kualitas pendidikan Si Kecil pun akan lebih terjamin.
  5. Karena terbiasa bermain sendirian, imajinasi dan kreativitas Si Kecil akan lebih terlatih.

Kekurangan Pola Asuh Appeasers

Ada kelebihan, tentu ada kekurangan dari pola asuh ini. Pola asuh appeasers mengedepankan perlindungan yang sangat ketat, sehingga Si Kecil akan merasa sangat terkurung. Dia bagaikan burung dalam sangkar emas, yang segala kebutuhannya sudah disediakan.

Kondisi ini akan membuat Si Kecil tertekan, rentan dengan stres, dan sulit mengembangkan kemampuan bersosialisasi. Selain itu, terkadang beberapa anak yang dibesarkan dengan pola asuh appeasers akan mengalami keterlambatan bicara atau speech delay

Selain itu, karena terlalu steril, sistem kekebalan tubuhnya pun kurang teruji, bahkan cenderung menurun karena kontak dengan bakteri yang sangat minim. (oleh Profesor Jack Gilbert, penulis buku Dirt is Good: The Advantage of Germs for Your Child's Developing Immune System).

Karena cenderung banyak di rumah, tubuhnya pun cenderung kurang bergerak. Kondisi inilah yang menyebabkan Si Kecil rentan obesitas. Selain itu, tentu ada beberapa dampak buruk lainnya terkait pola asuh appeasers, terutama terkait dengan kemampuan sosial, komunikasi dan lainnya.

Apakah cocok diterapkan di Indonesia?

Pola asuh appeasers membutuhkan konsistensi dan komitmen yang kuat dari Moms untuk membesarkan Si Kecil seorang diri, tanpa bantuan lingkungan. Pola asuh ini cocok diterapkan di tempat yang cenderung rawan kejahatan, rawan polusi, dan masyarakat yang individualis.

Jika diterapkan di Indonesia, jelas tidak cocok karena sebagian besar masyarakat Indonesia terbiasa saling mengenal bersama tetangganya. Selain itu, kondisi alamnya pun masih baik, dan masih mampu mendukung tumbuh kembang Si Kecil.

Dengan kata lain, tidak ada alasan Moms memilih pola asuh appeasers untuk diterapkan di Indonesia. Pola asuh permisif, pola asuh temporizer, dan pola asuh otoritatif, masih lebih mungkin dilakukan karena Si Kecil masih diberi kebebasan, meskipun dengan batasan-batasan tertentu.