Hati-hati Dads, Terlalu Galak Bisa Sebabkan Si Kecil Jadi Pembohong

Merries Insight
06 Februari 2018
Tumbuh Kembang
Share
Hati-hati Dads, Terlalu Galak Bisa Sebabkan Si Kecil Jadi Pembohong

Artikel ini berisi tentang :

  1. Terlalu Galak Bisa Sebabkan Si Kecil Jadi Pembohong
  2. Ciri Si Kecil Sedang Berbohong
  3. Apa Yang Harus Dilakukan Orangtua?
  4. Anak Pembohong Lebih Cerdas

Atas nama kebaikan Si Kecil, banyak orangtua yang mencoba mendisiplinkan anaknya dengan cara kekerasan. Bahkan terkadang, ancaman dan hukuman fisik dipilih sebagai solusi untuk membuat mereka jera dan mau menuruti perintah Dads.

Sayang Dads, pola asuh seperti ini tidak efektif untuk mendisiplinkan mereka. Alih-alih berhasil, justru cara ini bisa membuat Si Kecil makin tidak terkendali.

Terlalu Galak Bisa Sebabkan Si Kecil Jadi Pembohong

Sebuah penelitian yang dilakukan di McGill University Montreal, Kanada, berhasil membuktikan jika mendisiplinkan Si Kecil dengan cara kekerasan, cenderung membuat Si Kecil menjadi seorang pembohong. Hal ini dia lakukan untuk menghindari hukuman yang menurut mereka sangat mengerikan.

Dalam penelitian ini, tim peneliti mengumpulkan anak-anak dari dua sekolah yang berbeda. Satu sekolah diberikan peraturan disiplin ketat dengan hukuman sebagai cara untuk membuat mereka disiplin,  dan satu sekolah lagi memilih kebijakan yang lebih santai.

Setelah itu, tim peneliti pun melakukan tes kebohongan kecil. Dan hasilnya, anak-anak yang berada di sekolah pertama lebih banyak mencontek ketimbang anak-anak dari sekolah kedua yang memiliki atura lebih santai. Bahkan pada sekolah pertama, kebohongan dilakukan hampir oleh seluruh anak-anak.

Lewat penelitian ini, tim peneliti pun menyimpulkan jika aturan yang sangat ketat dan hukuman yang diberikan sebagai cara untuk mendisiplinkan anak, terbukti hanya akan melahirkan generasi pembohong. Dan mereka pun memastikan jika efeknya akan sama seperti ketika Si Kecil berada di rumah.

Ciri Si Kecil Sedang Berbohong

Pada dasarnya kebohongan Si Kecil bisa dideteksi dengan cara membaca gestur atau gerak tubuhnya (oleh Psikolog asal Amerika, Judi James, dalam bukunya berjudul The Body Language Bible: The hidden meaning behind people's gestures and expressions).

Misalnya, saat dia berbohong, Si Kecil sering mengangkat alis, membesarkan bola matanya, dan berkata “Saya tidak melakukan itu”. Setelah itu, dia pun akan memberikan sedikit isyarat penolakan dengan mengeluarkan ekspresi wajah lucu dan memainkan mulut.

Tanda lainnya, Si Kecil yang sedang berbohong akan berusaha meyakinkan Dads jika dia tidak melakukan hal yang nakal. Terkadang, setelah didesak dia pun akan mengaku, tapi disertai dengan pembelaan dan permohonan untuk diberi belas kasihan.

Salah satu tanda Si Kecil sedang berbohong adalah, dia cenderung menolak kontak mata secara langsung (oleh Dr. Gail Saltz dari New York–Presbyterian Hospital, Amerika). Saat bicara bohong, matanya pun menjadi tidak fokus dan terkadang memainkan mata ke atas dan ke bawah.

Selain itu, nada bicara Si Kecil pun akan cenderung meninggi dan berbicara dengan sangat cepat dan sulit dipahami. Saat diminta untuk mengulang perkataannya, cerita yang dia sampaikan akan cenderung berubah-ubah dan terlihat gugup.

Tapi perlu dicatat, khusus untuk tanda yang satu ini hanya akan ditunjukan oleh mereka yang baru atau tidak pandai berbohong. Sementara jika Si Kecil sudah terbiasa berbohong, nada bicaranya cenderung lebih tenang, dan mampu merangkai cerita yang sama seperti yang pertama dia ucapkan.

Apa Yang Harus Dilakukan Orangtua?

Apapun alasannya, bohong tetaplah tindakan negatif dan tidak bertanggung jawab. Untuk mengatasinya, Dads seharusnya tetap tenang dan tidak menunjukan reaksi marah (oleh Adrian Furnham, Ph.D., penulis buku The Psychology of Physical Attraction).

Setelah itu, peluk Si Kecil dan tegaskan jika Dads lebih menghargai kejujuran, walaupun disitu Si Kecil akan menjadi pihak yang sangat bersalah. Yakinkan, dengan kejujuran berarti dia sudah berhasil jadi anak baik dan bertanggung jawab.

Ingat Dads, Si Kecil belum cukup dewasa untuk menyadari dan bertanggung jawab atas kesalahan yang baru saja dia lakukan (oleh Richard Gallagher, PhD, Psikolog klinis dari Parenting Institute di the New York University Child Study Center, Amerika).

Makanya, amarah dan hukuman yang berat hanya akan membuat Si Kecil tambah takut dan mengulang kembali kebohongan demi terhindar dari hukuman.

Dalam kondisi ini, Dads disarankan untuk bersama-sama membereskan kesalahannya. Jika dia bertindak jahat kepada temannya, ajak dia untuk menemui temannya dan dorong dia untuk meminta maaf. Selanjutnya, berikan pujian dan arahkan Si Kecil untuk menerima konsep berani jujur dan tanggung jawab.

Anak Pembohong Lebih Cerdas

Walaupun kebohongan bukan sebuah prestasi, walaupun dia berhasil meyakinkan orang lain dengan kebohongannya, faktanya sebuah penelitian di Kanada yang dilakukan kepada 1.200 anak berusia 2-17 tahun, menemukan fakta jika mereka yang mampu berbohong jauh lebih cerdas.

Dalam keterangannya, para ahli dari Institute of Child Study di Toronto University, menyebut jika berbohong membutuhkan proses yang kompleks karena Si Kecil harus mengarang atau membayangkan sebuah cerita yang menarik agar dia dipercaya.

Seluruh proses ini membutuhkan pemikiran yang sangat cepat dan tepat, sehingga kemampuan Si Kecil bisa jadi indikasi kekuatan IQ-nya yang lebih baik.

Tapi ingat Dads, kebohongan tetap kebohongan dan kebiasaan ini jangan dipelihara, apalagi dilatih untuk menjadi semakin sempurna. Kalau tujuannya ingin meningkatkan IQ Si Kecil, banyak cara yang lebih baik untuk melatihnya!