Ternyata Ini Lho Penyebab Anak Terlahir Dengan Badan Bongsor

Merries Insight
19 Agustus 2017
Tumbuh Kembang
Share
Ternyata Ini Lho Penyebab Anak Terlahir Dengan Badan Bongsor

Artikel ini berisi tentang :

  • Apa Sih Penyebab Macrosomia atau Giant Baby?
  • Apa Dampaknya pada Si Kecil?
  • Hati-hati dengan Autisme!
  • Bagaimana Cara Mencegah Macrosomia?

Istilah Macrosomia atau giant baby memang masih cukup jarang di Indonesia. Rata-rata, ibu hamil di Indonesia biasa melahirkan anak sekitar 2.5 s/d 4 kg. Sementara untuk istilah Macrosomia, kondisi ini merujuk kepada bayi yang lahir di atas 4 kg, misalnya 4.2 kg, atau bahkan 5 kg.

Apa Sih Penyebab Macrosomia atau Giant Baby?

Menurut dr. Nita Ratna Dewanti, Sp.A, dokter anak dari RS Premier Bintaro, kebanyakan bayi yang terlahir bongsor atau giant baby, bisa disebabkan karena faktor lonjakan berat badan berlebih Moms saat hamil, hingga faktor keturunan.

Selain itu, bayi terlahir besar bisa juga terjadi karena faktor diabetes gestasional yang Moms alami. FYI, diabetes gestasional merupakan kondisi dimana kadar gula darah melonjak tajam, dan biasa ditemui hanya saat masa kehamilan saja.

Walaupun tampak lucu dan menggemaskan, dr. Nita menegaskan jika kondisi bayi yang terlahir besar sebenarnya sangat berisiko, terutama saat proses persalinan terjadi. Umumnya, Ibu hamil dengan bayi Macrosomia, sangat disarankan untuk melahirkan lewat proses operasi caesar.

Apa Dampaknya pada Si Kecil?

Sudah jelas, macrosomia merupakan sebuah kelainan yang tidak bisa dianggap enteng. Selain menghadirkan mimpi buruk saat kelahiran dan cenderung bisa diselesaikan lewat operasi caesar, bayi dengan macrosomia pun berisiko mengalami komplikasi berupa:

  • Kadar gula darah yang melebihi batas ukuran normal.
  • Obesitas sejak dini, dan meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung dan komplikasi lainnya saat dewasa nanti
  • Berpotensi menderita sindrom metabolik dan berbagai komplikasi dibawahnya.
  • Berisiko mengalami cacat saat dilahirkan jika memaksa menggunakan metode melahirkan secara normal, dan sejumlah risiko lainnya.

Sementara itu, bagi ibu hamil macrosomia bisa membuat proses melahirkan terasa berat. Bahkan seperti disebutkan diatas, kondisi ini bisa menggiring Moms masuk ruang operasi untuk dilakukan operasi caesar, risiko pendarahan dan lainnya.

Melihat risikonya yang sangat tinggi, sangat disarankan untuk menjaga berat badan tetap ideal sebelum dan selama masa kehamilan. Selain itu, periksakan diri Moms ke dokter atau bidan untuk memantau perkembangan janin dalam kandungan.

Hati-hati dengan Autisme!

Selain berisiko saat dilahirkan, menurut penelitian yang dilakukan di Manchester University pada tahun 2013 silam, menyimpulkan jika macrosomia meningkatkan risiko autisme sejak dini, bahkan risikonya mencapai 60 persen.

Mengenai hal ini, para peneliti sepakat jika kondisi tingginya risiko autisme pada bayi macrosomia, umumnya disebabkan karena masalah pertumbuhan selama dalam kandungan yang tidak normal, atau karena lonjakan gula darah yang tidak terkontrol.

Bagaimana Cara Mencegah Macrosomia?

Mengenai hal ini, Dr. Tan Ay Eeng, Pakar Kandungan dan Ginekologi dari Prince Court Medical Center, menyarankan Moms untuk disiplin menjaga berat badan. Bagaimanapun juga, menjaga berat badan tetap ideal, merupakan hal yang harus dilakukan, bahkan sebelum masa kehamilan berlangsung.

Idealnya, penambahan berat badan selama kehamilan adalah sekitar 10 s/d 13 kg untuk yang memiliki berat badan normal. Sementara itu, untuk yang memiliki berat badan diatas rata-rata, atau termasuk obesitas, Moms diwajibkan melakukan diet hingga masa kehamilan berlangsung.

Selain itu, Moms pun dianjurkan untuk disiplin menerapkan gaya hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan tinggi protein, vitamin, memperbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan, dan menjauhi makanan dengan kandungan gula tinggi, seperti junk food, minuman bersoda, es krim dan lainnya.

Ay Eeng pun menyarankan Moms untuk rutin melakukan olahraga khusus ibu hamil, berjalan kaki, berenang, yoga untuk Ibu hamil dan lainnya. Jangan lupa untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan sesuai dengan petunjuk dokter kandungan Moms.