Artikel Parenting

Penggunaan Balsem Bayi untuk Meredakan Gejala Flu pada Si Kecil

0
Penggunaan Balsem Bayi untuk Meredakan Gejala Flu pada Si Kecil

Artikel ini berisi tentang :

  1. Apakah menggunakan balsem aman bagi Si Kecil?
  2. Bagaimana solusi mengatasi flu Si Kecil?
  3. Bagaimana dengan terapi uap atau nebulizer?
  4. Kapan harus waspada dengan gejala flu?

Daya tahan tubuh Si Kecil yang belum terbentuk sempurna, membuat mereka sangat rawan terkena serangan flu. Untuk meredakannya, banyak orangtua yang mengoleskan balsem di beberapa bagian tubuhnya, terutama dada, punggung dan area leher.

Apakah menggunakan balsem aman bagi Si Kecil?

Penggunaan balsem untuk meredakan gejala flu Si Kecil sebaiknya dihindari. Pasalnya, penelitian yang dilakukan American College of Chest Physicians, menyebut jika beberapa produk balsem justru malah dapat memperparah produksi lendir, dan menyebabkan inflamasi di saluran pernafasan .

Beberapa produk balsem pun ada yang mengandung alkohol dan parfum untuk memberi sensasi segar dan aroma terapi. Bagi orang dewasa ini mungkin tidak masalah, tapi bagi Si Kecil bahan-bahan tersebut bisa menyebabkan iritasi kulit. (oleh Dr Bruce Rubin dari Wake Forest University School of Medicine)

Selain itu, Si Kecil yang masih berusia di bawah 2 tahun, memiliki saluran udara yang jauh lebih sempit ketimbang orang dewasa. Hal inilah yang membuat setiap peningkatan produksi lendir di hidung, atau inflamasi di saluran pernafasan, dapat membuat flu malah semakin parah.

Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang menuntut pelabelan penggunaan produk balsem tidak disarankan untuk anak dibawah 2 tahun. Selain itu, produk ini pun sebaiknya tidak dioleskan di bagian bawah hidung, tapi hanya untuk dada dan punggung saja.

Bagaimana solusi mengatasi flu Si Kecil?

Seperti dijelaskan di atas, balsem tidak boleh digunakan bagi Si Kecil yang masih berusia di bawah 2 tahun, dan hanya boleh digunakan untuk bagian punggung dan dada saja, bukan untuk dioleskan di bagian bawah hidung, apalagi area dekat mata, seperti bagian atas alis, kening bagian luar dan lainnya.

Untuk mengatasi flu Si Kecil, Moms bisa memberikan beberapa langkah pengobatan berikut ini :

  1. Pastikan ASI Si Kecil terpenuhi. Jika flu membuat Si Kecil sulit untuk menghisap ASI langsung dari payudara, maka pemberian ASI bisa dibantu dengan menggunakan pipet.
  2. Jika Si Kecil sudah berusia di atas 6 bulan dan sudah mengonsumsi MP-ASI, berikan air sup hangat atau kaldu ayam yang dibuat dengan cara merebus daging ayam hingga minyaknya keluar.
  3. Cobalah untuk menggunakan humidifier atau alat pelembap udara agar Si Kecil lebih mudah bernapas, sekaligus untuk meredakan lendir yang menyumbat saluran nafasnya.
  4. Jika Si Kecil terlihat sangat sulit untuk bernafas, sebaiknya segera hubungi dokter. Bagaimanapun juga, masalah pernafasan merupakan hal yang vital dan dapat menyebabkan kematian.

Untuk meredakan gejala flu, terkadang dokter akan memberikan resep obat untuk melegakan pernafasan, membantu Si Kecil agar tidur nyenyak dan meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. Pastikan Si Kecil benar-benar mengonsumsi obat tersebut sesuai dengan anjuran dokter.

Bagaimana dengan terapi uap atau nebulizer?

Terapi uap atau nebulizer atau inhalasi merupakan cara pemberian obat dengan cara dihirup agar dapat  langsung masuk menuju paru-paru. Terapi ini biasanya diberikan, bahkan sangat disarankan diberikan kepada bayi yang  menderita asma, dan memiliki masalah pernafasan akut atau kronik.

Tapi sayang, untuk common cold atau selesma, dan gejala masalah pernafasan ringan (termasuk gejala flu), terapi ini tidak dianjurkan karena memang tidak memiliki manfaat yang signifikan. (oleh dr. Meta Herdiana H, Sp.A, dokter spesialis anak di Rumah Sakit Manyar Medical Centre)

Sedangkan untuk terapi uap tradisional, seperti memberikan larutan garam dan kayu putih pada semangkuk air panas, terbukti efektif mengatasi masalah pernafasan, termasuk gejala flu dan pilek. Hal ini dibuktikan lewat penelitian yang diterbitkan The American Journal of Preventive Medicine pada tahun 2005. Selain berfungsi sebagai humidifier alami, larutan garam efektif untuk mengontrol pertumbuhan virus dan bakteri di dalam ruangan tersebut, dan aroma dari kayu putih ampuh untuk memberikan efek segar.

Tapi Moms harus tahu bahwa terapi uap tradisional jika dilakukan terlalu sering bisa memberikan efek samping dalam jangka panjang, seperti munculnya gangguan infeksi saluran pernafasan, timbulnya infeksi jamur pada mulut dan risiko munculnya luka bakar pada area rongga mulut termasuk gusi dan lidah anak yang masih sensitif.

Karena itulah, aturlah waktu yang tepat agar tidak terlalu sering melakukan terapi yang satu ini pada Si Kecil.

Kapan harus waspada dengan gejala flu?

Flu yang menyerang Si Kecil jangan diabaikan. Penelitian menyebut jika bayi yang berumur kurang dari 3 bulan terkena flu, lebih rentan terkena komplikasi yang lebih serius, misalnya radang paru-paru atau pneumonia dan infeksi telinga.

Jika Si Kecil sudah lebih dari 3 hari terserang flu, dengan gejala demam, hidung tersumbat, bahkan sulit untuk menyusu, sebaiknya Moms segera hubungi dokter untuk solusi lebih lanjut.

Selain itu, lakukan upaya pencegahan dengan cara :

  1. Berikan ASI eksklusif bagi Si Kecil yang berusia di bawah 6 bulan. ASI terbukti efektif untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh Si Kecil.
  2. Berikan MP-ASI dengan kandungan gizi seimbang untuk Si Kecil yang berusia di atas 6 bulan, terutama buah-buahan, bubur tim daging, sayuran dan lainnya.
  3. Jaga kebersihan Si Kecil dan lingkungan, dari mulai kamar, tempat tidur dan lingkungan sekitarnya. Hal ini dilakukan untuk mencegah bibit penyakit tumbuh.
  4. Jangan lupa untuk memantau pertumbuhan Si Kecil. Moms bisa rutin mengikuti posyandu atau menghadiri seminar tentang kesehatan anak di klinik atau rumah sakit untuk mendapatkan penyuluhan dan informasi lebih lengkap terkait pertumbuhan dan isu kesehatan bayi.
  5. Penting untuk menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga di rumah. Jika ada orang dewasa yang terkena flu, sebaiknya jauhkan dari Si Kecil agar tidak menularinya.

Ingat Moms, mencegah lebih baik ketimbang mengobati. Jika kondisi kesehatan Si Kecil terlihat makin memburuk, segera hubungi dokter!

artikel terkait